Marwah

“Sehingga nantinya MUI (Majelis Ulama Indonesia) punya marwah, wibawa, kehormatan, dan harga diri”, demikian kalimat yang dilontarkan wakil ketua KPK Bushro Muqoddas menanggapi peristiwa sertifikat halal yang dikeluarkan oleh MUI. Adalah Amidhan Shaberah sebagai wakil ketua MUI yang menangami masalah sertifikat halal.

Tulisan berikut bukan mengakaji label halal-haram. Tapi ada satu kata yang menarik perhatian saya yaitu kata “marwah”. Kata marwah dalam al-Qur’an disebutkan sekali yaitu dalam surat Al-Baqarah : 153. Marwah tidak berdiri sendiri, tapi digandeng dengan kata sebelumnya, yakni shafa. Shafa marwah adalah salah satu ritual dari ibadah Haji, yang disebut sa’i.

Syaikh Muhammad Abduh berpendapat bahwa sa’i memiliki kandungan agar orang untuk berbuat sabar guna menerima segala penyempurnaan nikmat Allah, dan supaya tahan menderita dari berbagai macam cobaan.  Disamping itu, sa’i juga memiliki pengharapan, bahwa akan datang masanya berkeliling diantara bukit Shafa dan Marwah.

Kalimat Shafa dan Marwah dari ayat tersebut diakhiri dengan kata syiar. Syiar memiliki makna tanda, demikian kata Hamka dalam tafsir Al-Azhar. Syiar memiliki kata jama’ Sya’air. Sehingga Sya’airallah dapat diartikan tanda-tanda peribadatan kepada Allah. Dalam rangkaian ibadah haji banyak dijumpai tanda-tanda peribadatan kepada Allah. Tawaf, wukuf, menyembelih hewan qurban, melempar jumrah dll.

Dalam kehidupan sehari-hari kata syiar telah dikembangkan dengan makna meramaikan, menyemarakkan. Karenanya syiar Islam dapat pula berarti menyemarakkan Islam. Islam harus diramaikkan, dikembangkan sesuai dengan kemampuan individu maupun kelompok. Secara Individu, berarti orang tersebut mengembangkan syiar Islam sesuai dengan kemampuan. Pengembangan ekonomi Islam, karena orang tersebut berlatar belakang ekonom. Mengembangkan ilmu kedokteran, kewirausahaan dll.

Dengan cara yang demikian orang lain akan mengetahui. Karena Islam diramaikan dengan kerja nyata. Islam menjadi semarak karena setiap orang maupun kelompok melakukan syiar. Bukan bermaksud sombong, ujub, pamer. Tapi karena Islam mengajarkan agar segala bentuk tindakan kebaikan yang dilandasi karena ridlo, harus disebar luaskan agar orang lain mengetahui.

Marwah yang menjadi satu rangkaian dengan syiar, sebagaimana yang dimaksudkan oleh Busyro Muqoddas mengandung pengertian bahwa apapun bentuk pengumpulan harta benda yang berasal dari umat harus dilaporkan, diinformasikan kepada publik. Apalagi lembaga yang mengumpulkan adalah setara MUI. Memang maksud beliau sebatas himbauan. Karena MUI bukan sebagai penyelenggara Negara. Dengan transparasi dan kemandirian, MUI dapat menata kembali kepercayaan, yang belakangan terpuruk diterjang kasus label halal-haram yang diperjual belikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *