Samuel Eto’o yang Bersahaja

Ada kalanya seseorang mampu menjadi pahlawan bagi negaranya. Entah dari negara manapun. Negara maju ataupun terbelakang. Mereka ini diberi kemampuan dalam bidang tertentu. Skillnya mumpuni dan mampu menyihir dalam setiap permainannya. Melebihi dari dari teman sebayanya. Mereka juga juga mampu bersaing dengan sesama profesi dari negara manapun.

Pecinta sepak bola di era tahun 90an, hampir pasti mengetahui kehebatan Samuel Eto’o. Setiap event yang dia lakoni mampu membawa klubnya untuk berjaya. Baik tingkat klub professional maupun antar negara. Ia mampu menjadi pembeda dari rekan se-tim-nya. Kecepatan lari maupun akurasi menggocek bola.

 “Saya kira demikian, semua musim saya fokus untuk persiapan Piala Dunia. Ini satu hal yang bisa saya pikirkan”. Kalimat tersebut menuncur dari seorang mantan bintang lapangan Barcelona dan Inter Milan. Ia tahu diri dengan timnya dan juga keadaan negaranya. Seorang bintang lapangan, tapi tidak mampu mengangkat pamor tim negaranya.

Bermain sepak bola itu tim. Bukan individual. Karenanya, meski kehebatan individu diakui, tetapi manakala rekan se-tim tak mampu mengimbanginya, maka akan sia-sia dalam permainan. Sebuah tim memang tidak menuntut semua pemain hebat.

Sebuah tim akan bermain bagus apabila masing-masing pemain mampu memerankan dirinya sesuai posisinya. Andai ada seorang bintang, bagaimana rekan tim mampu menghidangkan sebuah bola matang untuk dijadikan sebuah gol.

Eto’o adalah tipe pemain goal getter. Ia hanya ingin aliran-aliran bola meluncur dan leluasa untuk digoreng dan menghasilkan gol. Ia memang tipe pekerja keras. Rela memburu bola hingga di area belakang. Ia juga tipe pelari yang tak kenal lelah. Sangat cocok dengan tipe orang Kamerun.

Kamerun adalah sebuah Negara yang berdampingan dengan Nigeria di barat, Chad di timur laut, Republik Afrika Tengah di timur, dan Republik KongoGabon, dan Guinea Khatulistiwa di selatan. Kamerun memiliki luas 475.440 km2. Secara umum mayoritas perekonomian penduduk masih smiskin.

Ekonomi nampaknya bukan halangan bagi kamerun untuk menjadi salah satu tim yang berlaga di piala dunia. Sebagimana Negara di kawasan Afrika lainnya, olahraga sepak bolanya beberapa langkah lebih maju bila dibandingkan dengan Indonesia. Bisa jadi sepak bola menjadi alat diplomatik kenegaraan. Dengan kondisi alam dan sumber daya manusia yang terbatas sangat wajar bila penampilan belum sekinclong total football ataupun tim dinamit dan segarang samurai. 

Eto’o yang telah terpilih menjadi pemain terbaik Afrika 3 kali, secara ksatria berkilah, “Saya ingin menyelesaikan tugas terakhir ini, ini sangat penting.” Baginya, sebelum bertanding semua bisa terjadi. Filosofi bola tetap dipegang teguh. Ia yang menjadi tumpuan rekan-rekan se-tim dan mampu menjadi warga kamerun tetap jantan menghadapi realitas.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.