Akal untuk Manusia

Jum’at Berkah

Manusia itu sejenis hewan juga, tetapi Allah memberikannya kelebihan dengan akal. Akal itulah yang menentukan segala perkara yang wajib harus dilakukan, dan wajib untuk ditinggalkan manakala ada larangan. Meskipun sesuatu itu lezat untuk dimakan, belum tentu dia melakukannya sebelum mendapat persetujuan dari akalnya. Bila melihat harta orang lain yang amat bagus, akalnya melarang mengambil dan mengganggu hak orang lain.

Dengan akal itulah manusia dapat memikirkan betapa besar nikmat yang diterima dari Allah. Betapa mulia kenikmatan dan tingginya yang tak ternilai. Nikmat hisup, nikmat sehat dan nikmat kesempatan. Akal manusia berbeda-beda sebagaimana beda raga, beda kulit, beda suku. Itulah sebabnya akal menjadi alat ukur keinginan, tujuan hidup, pertimbangan dan perasaan. Sangat wajar bila tiap orang memiliki keinginan yang berbeda-beda.

Keistimewaan pemberian Allah selain akal adalah nafsu. Hewan juga memiliki nafsu sebagaimana manusia. Manusia yang mampu mengendalikan nafsu, maka akan mendapatkan derajat tertentu dihadapan Allah. Dilain pihak, ada manusia yang tidak mampu menata nafsu, sehingga perilakunya menyimpang, seperti kesalahan, keteledoran, dan kegagalan.

Akal menyuruh manusia menjaga dirinya dan mengatur perikehidupan. Jangan meniru orang lain sebelum dipikirkan apakah hasil tiruannya cocok dengan dirinya. Setiap orang memiliki perannya masing-masing. Seorang ustadz bertugas memberi pencerahan tentang kehidupan beragama. Seorang pegadang berperan menyediakan kebutuhan bagi orang lain. Semuanya harus menempuh perjuangannya. Siapa mempersiapkan diri dengan bekal cukup, akan terus maju dan (mungkin) berjaya.

Fungsi akal dapat dibagi menjadi tiga, yaitu pertama untuk memahami. Menurut Sayyid Qutb, akal manusia harus mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an yang tersaji dalam alam semesta ini. Kedua, untuk mengambil Hikmah dan Pelajaran dari kejadian yang terdapat dalam al-Qur’an. Menurut Wahbah az-Zuhaili, para penghuni neraka mencerca dan menyalahkan dirinya masing-masing, dengan berkata: “Seandainya kami di dunia mendengar sungguh-sungguh kepada siapa yang membawa kebenaran dan menginginkan jawaban, atau menyadari dan berpikir atas apa yang ia (Rasulullah Saw) seru kepada kami, dari hidayah dan petunjuk, maka tidaklah kami tertimpa api nereka yang menyala-nyala.”

Ketiga, untuk menjaga diri dan mencegah dari perbuatan tercela. Seperti menjaga diri dari sesuatu yang haram. Hal ini tentunya mengisyaratkan bahwa akal berfungsi sebagai penghindar dari kejahatan moral terhadap Allah SWT dan manusia.

Bahan bacaan :

Buku “Falsafah Hidup” karya Prof. Dr. Hamka

Link: https://islami.co/tiga-fungsi-akal-dalam-al-quran/

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.