Kalibeber – Klaten via Gunung Sindoro

Angan-angan ini sebenarnya sudah lama. Masih saya pendam karena belum ada kesempatan yang tepat. Ada waktu, tapi tidak sempat terjadi berulang kali. Ada kesempatan namun tak ada waktu lebih sering dijumpai. Bila harus diukumpulkan keinginan ini mungkin sudah menjadi gunung anakan.

Minggu ini, bertepatan dengan tahun baru Hijriyah 1442 dan juga pas banget dengan cuti bersama kuambil peluang ini menjadi realita. Kuusahakan faktor kemungkinannya bernilai satu atau pasti terjadi karena memang peristiwanya sudah berlalu. Ini Namanya menguji teori kemungkinan.

Kamis pagi menuju siang selepas pukul 10.00, saya berangkat dengan mengendarai roda 2. Jalur yang saya pilih seperti biasa. Dari rumah menuju Jogonalan lanjut Prambanan. Dari titik ini kanan naik menuju Manisrenggo, dilanjut melewati Pakem, terus ke barat menuju jembatan Tempel Sleman.

Dari Tempel menuju Borobudur terus ke barat sampai Silentho yang masuk wilayah Kecamatan Kepil Wonosobo. Perjalanan berikutnya ke utara menuju Sapuran untuk bertemu sahabat lama waktu SMP. Nama panggilannya Endro. Dia adalah seorang pedagang spare part kendaraan bermotor.

Tujuan berikutnya adalah layat ke tempat teman SMP juga, yang hari itu sedang mendapat musibah. Suaminya meninggal dunia. Tempatnya di Wanabungkah, sebelah selatan Kalianget. Dilanjut ke tempat teman SMP juga yang ada di Manggisan, Namanya Surakhmat, panggilannya Mamek. Saat masih SMP dia ini termasuk jago sepak bola. Bahkan di tahun berikutnya Ia menjadi salah satu squad inti PSIW (Persatuan Sepak Bola Indonesia Wonosobo).

Sebenarnya yang hendak saya tulis adalah saat naik ke Sikarim kemudian pulang melewati lereng Sindoro sisi utara. Karena perjalanan ini sudah saya impikan dari dulu. Jalurnya ada dua. Pertama yang melewati Tambi dan Sigedang. Kedua yang melewati Kejajar. Saya ambil alternatif yang kedua.

Begitu sampai di Kejajar, saya langsung ambil kanan, jalan ke arah Semarang atau Temanggung. Dari sini saya mulai perjalanan melalui lereng gunung. Menembus dua gunung. Gunung Prau dan Gunung Sindoro. Jalan lumayan baik, halus. Tapi ada beberapa ruas jalan yang rusak. Mesti hati-hati melewati jalan tersebut.

Menapaki jalan naik turun khas pegunungan, sebenarnya saya tidak kaget. Karena sejak kecil sudah terbiasa melewati jalan seperti ini. Hanya saja, kali ini saya memakai sepeda motor. Jadi mesti hati-hati. Apalagi untuk pertama kali melewati jalur itu.

Perkampungannya adalah khas orang pegunungan dengan profesi petani. Di Bulan Agustus tahun 2020 tepat musim kemarau. Sinar mataharinya menyengat. Tampak petani tembakau begitu sumringah. Ceria. Sebentar lagi mengais rejeki.

Beberapa perempuan terampil menata daun tembakau untuk dikeringkan dipinggir jalan, atau di atas rumah. Jemari bermain ritmis, dedaunan tembakau pasrah untuk dibolak-balik, dibawah terik sang matahari.

Sepeda motor kupacu menyapa aliran air yang mengalir menuju suatu tempat. Menandakan bahwa jalan sudah mulai menurun. Namun demikian tetap saja jalanan masih terjal. Bahkan saat menurun tingkat kewaspadaannya lebih tinggi. Karena sisi kanan adalah lereng gunung, sementara sisi kiri jurang.

Akhirnya sampai pada suatu tempat pertigaan. Ke kanan menuju Ngadirejo, Temanggung. Ke kiri menuju Jatiroso, Sumowono. Saya ambil sisi kiri setelah sebelumnya bertanya dengan seseorang. Jalur ke arah Jatiroso sungguh enak sekali. Jalannya rata dan lebar. Apalagi bila sudah sampai jalan besar Weleri – Parakan.

Berikutnya saya mengarahkan perjalanan menuju Jumo-Sumowono, dan dilanjut sampai Bandungan. Menempuh perjalanan di etape ini kurang berkesan. Karena jalan sudah lebar, kendaraan yang lewat juga cukup banyak. Hanya saja mulai dari sebelum Sumowono sampai ke Bandungan yang sedikit berkesan. Disamping dingin, jalan cukup lebar, kendaraan cukup banyak yang lewat, dan berkelok.

Tiba di Bandungan, tidak ada bedanya dengan suasana perkotaan. Kendaraan padat merayap. Meskipun jalan berkelok-kelok tapi kurang mengasyikkan. Hanya hijau pepohonan yang sedikit menghiburku.

Tibalah saya harus berhenti sejenak di Ambarawa. Meskipun suasana covid-19 tidak berpengaruh dengan aktifitas masyarakat. Tetap ramai. Apalagi pasar. Saya harus memutuskan, lewat utara atau selatan menuju Salatiga. Lewat utara jalannya halus, lebar, tapi ramai sekali. Sementara kalau lewat selatan, jalannya sepi, melewati perkampungan.

Kuputuskan untuk melewati jalur utara. Meskipun ramai dan panas kunikmati saja. Berpacu dengan bis, truk, atau sesama kendaraan roda dua yang ngebutnya minta ampun.

Perjalanan menuju Klaten lewat Boyolali adalah berkendaraan yang sedikit membosankan. Mungkin karena pengaruh kelelahan. Punggung sudah berbunyi “mak kriyek”. Mata juga cukup lelah. Mengantuk dan haus. Sehingga rasa bosan menghampiri. Apalagi siang itu demikian panas. Namun secara keseluruhan tetap puas. Keinginan yang terpendam terbayar lunas. Semoga perjalanan berikutnya lebih berkesan.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.