Bersepeda menyusuri Lorong

Corona muncul dan meluluh lantahkan setiap sendi kehidupan. Kehidupan jadi sepi, merunduk dan tiarap. Ekonomi porak poranda. Dua bulan pertama sejak pembatasan gerak masyarakat, pundi-pundi keuangan keluarga oleng. Bahkan ada yang terpuruk. Dua bulan pertama itu terkurung. Kalau ditanya, hari dan tanggal berapa hari ini? Mereka lupa hari dan tanggal. Tahunya cuma adzan menyapa.

Ketika pergerakan sedikit demi sedikit terbuka, manusia keluar seperti air bah. Hampir tiap orang ingin keluar. Tetapi mau aktifitas apa? Tempat wisata ditutup, bahkan silaturahmipun masih dibatasi. Bukan tidak boleh. Pemerintah tetap mewanti-wanti agar pergerakan masih dibatasi untuk antisipasi sebaran covid-19. Saat kehidupan dikekang seperti itu, manusia justru timbul ide bagaimana bisa keluar rumah tanpa menimbulkan kegaduhan.

Salah satu akibat corona adalah booming sepeda. Tiba-tiba sepeda bersliweran di jalan raya ataupun perkampungan. Tiba-tiba pula, toko sepeda menjadi terkuras habis stok sepedanya. Apabila menginginkan sepeda harus menunggu paling tidak 2 minggu. Spare part sepeda menjadi barang yang dicari-cari. Tempat service sepeda membludak. Pengalaman penulis, pernah, hanya untuk mengganti ban, sepeda harus menginap semalam. Karena yang antri cukup banyak.

Bersepeda atau gowes memang sedang booming saat ini. Tapi kalau melihat waktu ke belakang sedikit, bersepeda sudah mulai digandrungi. Mungkin sudah mulai bosan dengan kepenatan lalu lintas di jalan. Atau mengurangi sedikit kepenatan setelah dibombardir segala macam pekerjaan.

Fredy Mercury pun pernah menulis lagu “Bycle Race” sebagai apresiasi terhadap Tour dr France, sebuah kegiatan balap sepeda legendaris yang usianya lebih dari 100 tahun. Awalnya mungkin hanya hobi beberapa orang saja. Pelan tapi pasti, ternyata hobi ini terus berkembang dan dinikmati lebih banyak orang.

Suatu ketika jadilah arena untuk perlombaan. Tahun 1893 resmi menjadi ajang perlombaan tingkat Internasional. Tahun 1896 masuk cabang olah raga terbesar yaitu olimpiade. Dikuti berikutnya event-event yang lain seperti Liege – Bastogne – Liege tahun 1892, Paris – Roubaix tahun 1896, Tour de France tahun 1903, Milan – San Remo dan Giro di Lombardia tahun 1905, serta tour-tour yang lain. Sepeda menjadi naik daun.

Dalam perjalanan waktu, bersepeda yang awalnya merupakan alat transportasi untuk bekerja, meningkat menjadi hobi dan ajang prestasi, kini menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Kucuran iklan atau sponsor dalam setiap perhelatan demikian besar. Pundi-pundi mengalir ke segenap penjuru. Bukan hanya atlit yang terkena kucuran, namun teknisi dan juga tentu saja pelatih.

Barangkali kita patut berterima kasih pada Baron Karls Drais Von Sauerbronn, sebagai orang yang pertama kali menyempurnakan velocipede. Beliau membuat alat transportasi roda dua untuk menunjang efisiensi dalam bekerja.

Pandemi telah membuat wajah perkotaan sedikit berubah, lebih ramah bagi pejalan kaki dan pesepeda. Di beberapa ruas jalan, tampak bersliweran sepeda. Tidak ada yang mengetahui persis, mengapa orang rela bersepeda.

Di Indonesiapun trend menggunakan sepeda sudah sejak tahun 2004, yang ditandai dengan sering dilakukan fun bike. Tahun 2007 muncul model sepeda gunung. Bahkan sepeda jenis fixie laris manis.

Tahun 2018 sepeda lipat (seli) muncul. Entah apa yang diinginkan. Seli memang hanya membutuhkan tempat yang sempit bila dilipat atau diparkir. Seli ini sering dibawa bepergian, meskipun naik kendaraan seperti bis atau kereta. Bisa jadi karena kepraktisannya, seli menjadi booming.

Saat ini, seperti yang saya tulis pada paragraph awal, masyarakat memang sedang gandrung bersepeda. Bukankah ini lebih baik? Mengurangi kebisingan, mengurangi bahan bakar minyak, dan tentu sambal berolah raga.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.