Pembangunan Manusia

Faktor manusia dalam pembangunan memiliki peran yang sangat sentral. Faktor manusialah yang mampu menata kehidupan ini menjadi lebih baik atau sebaliknya. Andai ada sebuah lembaga mencapai kejayaan, lihatlah unsur manusianya. Jangan dilihat fasilitas atau sarana yang tersedia.

Pakar ekonomi pembangunan, Amartya Sen menawarkan konsep human capabilities approach. Pendekatan ini menekankan pada gagasan kemampuan manusia sebagai sentral pembangunan. Tokoh lain Ul Haq, berpendapat bahwa manusia harus menjadi inti dari gagasan pembangunan. Hal ini menunjukkan bahwa sumbersaya yang diperlukan dalam pembangunan harus dikelola untuk meningkatkan kualitas manusia.

Indonesia sebagai sebuah komunitas yang besar, tentu tak luput dari usaha untuk pembangunan manusia. Negara yang kita cintai ini tentu tak ingin tertinggal darinegara lain, meskipun secara statistik memang demikian adanya. Laporan PBB tahun 2019 mencatat bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada pada peringkat ke-111 dari 189 negara. Ada tiga indikator yang dihitung, yaitu Kesehatan, Pendidikan dan pendapatan.

Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan bahwa IPM adalah tingkat partisipasi warga negara dapat mengakses hasil pembangunan untuk memperoleh pendapatan, Kesehatan dan Pendidikan. Tiga persoalan pokok inilah yang digarap oleh pemerintah agar setiap warga negara berhak menikmati hasil pembangunan secara proporsional. Tidak diperkenankan kelompok masyarakat tertentu menghisap hak kelompok yang lain.

Apa saja ukuran IPM agar memperoleh indeks yang tinggi? Ada 3 dimensi mendasar dalam mengukur IPM. Umur Panjang dan hidup sehat, pengetahuan dan standar hidup layak. Ukuran umur panjang mengacu pada hidup yang sehat, tidak sakit, mental yang kuat. Memang hidup mati itu adalah urusan Tuhan. Namun mengusahakan berumur panjang dan sehat adalah usaha manusia.

Manusia yang berpendidikan akan berdampak langsung pada kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dengan pengetahuan yang dimiliki, Ia bebas menggali potensi alam untuk dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Orang yang berpendidikan juga memiliki daya tubuh yang lebih kebal. Kehidupan yang layak juga lebih mudah didapatkan oleh orang yang berpendidikan.

Bagaimana menyikapi agar IPM lebih tinggi? Beberapa ahli menyatakan akan menguntungkan dari sisi pembangunan, karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar. Sedangkan proporsi usia muda semakin kecil, dan proporsi usia lanjut belum banyak. Hal ini bermakna bahwa kelompok produktif memiliki porsi besar dalam susunan demografi, dan bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas.

Bonus demografi akan dialami Indonesia pada rentang tahun 2020-2030, dengan jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70 persen, sedang 30 persen penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun). Tantangannya adalah menyiapkan sumber daya manusia Indonesia berkualitas agar dapat berkembang, produktif dan mampu bersaing. Bonus demografi bisa menjadi malapetaka jika usia produktif tidak memperoleh kesempatan lapangan pekerjaan yang layak. Terlebih dengan perkembangan globalisasi mengakibatkan ketatnya persaingan kerja.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.