Kerja

Jum’at Berkah

Kerja adalah kewajiban. Apalagi bagi seorang muslim. Kerja adalah konsekuensi hidup. Bila eksistensi kehidupan manusia tidak ingin punah, maka harus bekerja.  Kerja adalah perintah suci Allah kepada manusia. Meskipun akhirat lebih kekal daripada dunia, namun Allah tidak memerintahkan hambanya meninggalkan kerja untuk kebutuhan duniawi.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (untuk kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qashash: 77).

Pondasi manusia dalam bekerja sudah sangat jelas yaitu perintah dari Allah SWT. Sabda  Rasulullah Muhammad SAW saat melakukan pekerjaan, juga tampak jelas yaitu memuliakan orang bekerja. Dalam sebuah kisah ada seseorang yang berjalan melalui tempat Nabi Muhammad. Orang tersebut sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, andaikata bekerja semacam orang itu dapat digolongkan jihad fi sabilillah, maka alangkah baiknya.” Mendengar itu Nabi pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, itu adalah fi sabilillah, kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orangtuanya yang sudah lanjut usia, itu adalah fi sabilillah, kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, itu juga fi sabilillah.” (HR. Ath-Thabrani).

Persoalan yang muncul bahwa bekerja bukanlah sendirian. Ia bekerja pasti untuk orang lain. Ia bekerja juga karena orang lain. Jadi orang bekerja itu bergantung dari orang lain. Tak ada pekerja untuk dirinya sendiri. Muncullah mata rantai yang saling terkait dalam urusan pekerjaan.

Bagi seorang muslim dan muslimah, bekerja memang harus dilandasi dengan niat yang baik. Sebab niat akan membuahkan amal. Kerja pada hakekatnya adalah manifestasi amal kebajikan. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya nilai amal itu ditentukan oleh niatnya.” Amal seseorang akan dinilai berdasar apa yang diniatkannya. Suatu hari Nabi Muhammad berjumpa dengan Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari. Ketika itu Nabi Muhammad melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. “Kenapa tanganmu?,” tanya Nabi kepada Sa’ad. “Wahai Rasulullah,” jawab Sa’ad, “Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu Nabi mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh api neraka”.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.