Melukis itu Mencerdaskan

Saat saya masih kecil, yang namanya orang cerdas itu pinter dalam pengetahuan. Kalau rujukan di sekolah, anak yang cerdas adalah mereka yang mendapatkan nilai yang baik setiap ulangan. Minimal 8, lebih sering dapat 10. Hanya segelintir anak yang menikmati golongan kelas cerdas. Selebihnya hanya penggembira. Pura-pura ikut kompetisi. Namun sejatinya sudah dalam kondisi menyerah dan hanya membuat senang orang tua. Ada juga kelompok pecundang, yang hampir selalu membuat ulah dalam kelas. Itu ukuran kecerdasan waktu itu.

Lambat laun ternyata profesi seseorang diluar kecerdasan diatas diakui oleh orang lain. Orang yang trampil memainkan instrument dalam bermusik semakin mendapat perhatian orang lain. Bahkan dengan bermusik ternyata seseorang mampu menghidupi keluarga. Anak yang pandai bergaul dengan temannya, sehingga mampu mengerahkan dalam setiap aktifitas dianggap cerdas dalam bermasyarakat. Dikemudian hari, anak ini bahkan menduduki di sebuah lembaga Negara, dan mampu mengelola masyarakat dengan baik. Tidak jarang kita temui seorang anak yang mampu memperagakan kuas untuk melukis diatas kanvas. Anak ini juga mampu memvisualkan keanekaragaman yang terjadi dalam masyarakat. Orang akan mampu membaca kehidupan masyarakat hanya dengan melihat lukisan.

Melukis atau menggambar memang telah diakui sebagai salah satu bentuk kecerdasan. Melukis bisa berdiri sama tegak dengan kecerdasan intelektual, dan ketrampilan lainnya. Kecerdasan ini menurut rujukan ilmu disebut spasial, yaitu orang yang mampu menghubungkan obyek dengan ruang. Dari sisi intelektual, mungkin belum mampu menghubungkan antar obyek, karena keterbatasan teori dan hukum. Namun, orang yang bertipe spasial dengan mudah menjelaskan antar obyek dan ruang dengan bahasa yang bisa dimengerti orang lain.

Umumnya anak-anak yang memiliki kecerdasan spasial, mudah memahami berbagai macam gambar dari pada kata-kata. Bahasa matematikanya, lebih cepat menyerap geometri dari pada aljabar. Maka, anak-anak yang memiliki kecerdasan spasial lebih menonjol dalam bidang seni. Indikator kecerdasan spasial dapat dilihat bila anak senang terhadap permainan puzzle. Bagi orang lain puzzle akan membuat pusing, tapi tidak bagi anak ini. Puzzle bahkan menjadi teman dalam bermain.

Makanya, tidak perlu khawatir bila mempunyai anak yang kurang pandai dalam intelektual maupun spasial. Masih banyak kecerdasan lain yang dimiliki seorang anak untuk dikembangkan. Kunci utama adalah konsistensi. Belajar secara terus menerus dan focus terhadap pekerjaan atau hobi.

catatan Spasial

Spasial di sini berarti dapat memahami persepsi hubungan antarobjek dalam ruang. Umumnya anak-anak yang berkecerdasan spasial lebih mudah memahami gambar daripada kata-kata dan mampu menggambarkan segala sesuatu, termasuk menggambar sosok orang atau benda sesuai aslinya. Tidak heran jika anak-anak ini sangat menonjol dalam bidang seni.

Jika anak Anda menyukai permainan puzzle dan mencari jalur dalam maze, serta tidak bosan dengan permainan konstruksi tiga dimensi seperti Lego, berarti anak Anda memiliki potensi spasial. Umumnya anak-anak dengan kemampuan ini tanpa sadar sering mencorat-coret kertas ketika merasa jenuh dan senang melihat film, slide, atau foto. Mereka pun terkenal piawai dalam urusan membaca peta, grafik, dan diagram,

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *