Madura: Negeri Orang Berkarakter.

Secara demografis, penduduk Madura mempunyai ekosistem tegalan. Cara pengolahan tegalan  tidak terlalu sulit. Tegalan tidak memerlukan air yang berlimpah. Tegalan bisa berdiri sendiri, walaupun ditengah area hutan. Berbeda dengan bertanam padi. Airnya harus mencukupi, perawatannya lebih insentif. Bertanam padi sangat tergantung dengan lingkungan. Air, sawah tetangga, pengelola/petani, teknologi pertanian, dan lain-lain. Demikian tulisan Kuntowijoyo (alm) dalam makalahnya :  Memahami Madura, sebuah pendekatan Sosial, Historis, Ekologi dan Kependudukan.

Kekerabatan yang dibangun lebih didasarkan pada keterikatan keluarga. Dalam membentuk sebuah kampong, masyarakat tidak membutuhkan anggota keluarga yang banyak. 6 – 8 keluarga dapat mengikat diri menjadi kampung. Kepemimpinan kelompok masyarakat cenderung lebih berminat ke figur seorang Kyai. Tidak heran kalau di Madura, masyarakat lebih menghormati Ulama dari pada pegawai pemerintah. Sama halnya dengan di Bali, yang lebih lekat dengan sesepuh adat.

Alam telah membentuk karakter masyarakat Madura, sebagai mana orang sisilia. Ada persamaan antara keduanya, yaitu setia terhadap keluarga. Mereka memiliki karakter yang pemberani, tangguh, bahkan tanpa kompromi. Keterikatan terhadap suku, dapat diperlihatkan manakala mereka sedang merantau.

Geng mafia menemukan surga di Amerika. Mereka membentuk komunitas, dan patuh terhadap omerta. Omerta berarti tertutup. Omerta dimaknai sebagai cinta buta terhadap keluarga, dan patuh terhadap pimpinan. Orang Madura sangat mencintai keluarga (terutama perempuan), dan taat ucapan ulama. Sungguh berbahagia menjadi perempuan di Madura. Karena mereka terpelihara dari aneka ragam gangguan dari luar.

Dalam perkembangan sosial kemasyarakatan, masyarakat Madura termasuk yang mampu mengemban amanat dari sesepuh. Terbukti tradisi yang terus dipelihara seperti, karapan sapi, carok, nilep pantai masih dipertahankan sampai saat ini.

Tradisi carok memang menyeramkan bagi orang-orang non Madura, namun bagi masyarakatnya, carok memiliki makna yang dalam, reflektif dan simbolik. Ia adalah nilai dan identitas warga Madura. Tradisi carok tidak terjadi tanpa sebab yang tidak jelas. Kehormatan, harga diri dan marwah keluarga menjadi nilai tertinggi yang melandasi bangunan tradisi carok Madura.

Apapun bentuk simpati ataupun kesinisan, Madura tetap eksotik. Dengan segala kelebihannya masyarakat Madura telah memperkaya khasanah budaya di tanah air, sebagimana juga daerah lain yang memiliki tradisi dan budaya yang khas.

Urusan stamina lelaki tidak boleh ketinggalan, “Ramuan Madura”.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.