Setan Takut Orang Berilmu

Jum’at Berkah

“Katakanlah, Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (tidak berilmu)?

(QS Az-Zumar 39: 28)

Orang yang mengatahui dan mengerti, mengerjakan sesuatu itu dengan baik dan benar. Sedangkan orang yang tidak mengetahui, kalau mengerjakan sesuatu asal-asalan, tanpa dasar. Harapan yang diinginkan tidak tercapai. Apakah keduanya sama? Tentu tidak. Tidak mungkin sama.

Bagaimana cara melihat perbedaan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Padahal mereka secara bersama-sama telah menunaikan pekerjaan? Tentu saja adalah hasilnya. Orang yang berilmu akan mendapatkan hidayah. Karena mereka melaksanakan pekerjaan penuh dengan perhitungkan. Mulai dari perencanaan sampai pada kemanfaatannya.

Al kisah, pada suatu waktu, Rasulullah berangkat ke Masjid. Setibanya beliau tiba di pintu masjid, terlihatlah setan berada di dekat pintu. Lalu beliau berkata kepadanya, “Hai setan, mengapa engkau berada di tempat seperti ini? Apa yang engkau inginkan?

Ia menjawab, “Sebenarnya aku hendak masuk ke masjid untuk menggoda orang yang sedang shalat. Namun niatku terhalang gara-gara lelaki yang sedang tertidur di dekat orang yang sedang shalat itu. Aku takut kepadanya”

Beliau bertanya, “Mengapa engkau tidak takut terhadap orang yang sedang shalat itu, tetapi justru takut peda lelaki yang sedang tidur di dekatnya?”

Setan menjawab, “Orang yang sedang shalat itu adalah orang yang bodoh, sangat mudah bagiku untuk menggodanya. Sedangkan orang yang tertidur itu adalah adalah orang yang alim. Jika aku menggoda orang yang shalat itu, aku takut orang alim akan terbangun dan memperbaiki shalat orang yang bodoh tersebut. Jika demikian terjadi, maka sia-sialah sudah usahaku untuk menipu daya”

Orang berilmu lebih banyak melihat sesuatu dari sisi positif. Dalam pandangannya tidak ada satu pun peristiwa di dunia ini yang sia-sia. Semuanya pasti ada manfaatnya. Sedangkan cara pandang orang bodoh yang sering melihat sesuatu dari sisi negatif. Setiap peristiwa terkadang disikapinya dengan keluh kesah, caci maki, dan putus asa.

Sungai mengalir yang tak terurus di sisi suatu perkampungan akan dipandang sangat menjijikkan, bahkan sebagai tempat pembuangan sampah, bagi orang yang tak memiliki ilmu. Mereka ini merespon sungai sebagai obyek kemarahan. Bahkan, sering melontarkan kesalahan kepada orang lain.

Sebaliknya, bagi orang yang berilmu, sungai itu ibarat sebuah lahan untuk berkreasi. Bagaimana agar sungai itu mengalir air yang bersih. Air yang bisa dimanfaatkan untuk sumber kehidupan bagi masyarakat seputar. Sungai ditata yang bersih, rapi untuk menciptakan lingkungan hidup yang sehat.

Janji Allah terbukti bahwa orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya. 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.