Commuter Line

koleksi pribadi

koleksi pribadi

Beginilah nasib jadi orang yang seneng berkendaraan sendiri. Bermotor atau nyetir sendiri. Sehingga kalau moda transportasinya harus diganti maka akan ditemui kegagapan. Cuma mau naik commuter line saja sampai harus tanya 4 kali lebih. Karena memang diluar kebiasaan. Ceritanya begini.
Kebetulan banget saya diberi tugas ke Jakarta untuk menemani anak-anak mengikuti lomba OLYQ. Pas mau pulang ke Jogja, sekali lagi saya juga naik kereta api yang lebih dari 15 tahun tak pernah menikmati spoor. Betangkat dari Cijantung saya menuju Pasar Senin dengan bis kota P52. Setelah turun, saya tanya stasiun untuk commuter lain yang menuju Gambir. Padahal tempatnya ada di depan mata. Dasar tak pernah bepergian dengan angkutan umum. Itu pertanyaan pertamaku.

Setelah melintas jalan layang, terpaksa saya tanya lagi. Loketnya sebelah mana? Jangan ditanya arah mata angin. Barat atau timur. Standarku cuma kanan atau kiri. Dengan langkah pasti aku menuju loket penjualan tiket. Ternyata bukan karcis seperti dugaanku. Ditanya sama petugasnya, kartunya mana? Kujawab langsung “tidak punya”. Lantas petugas mengucapkan 12 ribu, seraya saya menyodorkan dengan uang pas. Ternyata eh… ternyata, aku dikasih sebuah kartu seperti atm sebagai tanda masuk dengan sistem sensor magnetik. Ah…. kl cuma seperti ini saya dah pernah sewaktu di Singapura.
Urusan selesai? Ternyata belum. Aku harus nanya lagi tentang tujuanku ke Gambir. Tetsebutlah seorang bapak setengah baya dengan baik hati memandu perjalananku. Kebetuan searah. Lumayan. Bisa sediki ngobrol tentang katakter commuter line. Meski belum setepat dengan yang ada di Singapura, namun sudah lebih baik bila dibandingkan dengan puluhan tahun sebelumnya yang berjubel, kotor, semrawut dan banyak yang tidak membayar.
Di dalam commuter, kesan pertamaku, adalah bersih, tertib, informatif, penumpangnya berkatakter. Di dinding tertera berbagai informasi tetang perjalanan commuter. Mulai dari jalur, waktu jatak tempuh, hiburan di televisi serta pengumuman kala mau berhenti. Aku diberitahu bila hari sabtu memang agak lengang. Namun begitu tempat duduk terisi penuh. Penumpang bergelantungan tapi terlihat happy, enjoy, menikmati betul sebuah perjalanan. Minim petugas. Tapi saya juga dibisiki bahwa setiap gerbong dijaga oleh jawara betawi. Lengkap dengan senjatanya. Tidak ada pedagang asongan. Hanya sedikit sekali orang yang membaca buku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *