Sore di Masjid Agung Jateng

Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Semula saya hanya ngantar keluarga untuk mengikuti pelatihan Seni Baca Al Qur’an yang diasuh oleh Hj. Mawaddah Muhadjir. Kursus yang diselenggarakan oleh takmir Masjid Agung Semarang bersifat terbuka. Siapapun boleh mengikuti. Baik yang sudah pandai melantunkan lagu Al Qur’an ataupun yang masih mengenal huruf hijaiyyah. Karena seni bersifat universal.
Setelah menunggu mengular karena antri untuk keluar dari jalan tol Bawen-Semarang, akhirnya tiba juga di masjid selepas siang yang menyengat. Sebelumnya tampak ragu. Apakah lewat jalur konvensional (lewat ungaran) ataukah lewat tol. Namun setelah merasakan alur lalu lintas dari Salatiga, kuputuskan lewat jalan tol. Dan tentu saja agak jengah. Jalannya monoton.

Kebetulan juga, di masjid Agung diselenggarakan upacara tradisi dug deran. Sebuah ritual yang telah mengakar di kalangan masyarakat seputar. Sebagaimana aksi tradisi yang lain semisal sekaten atau yaqowiyyu, peristiwa budaya ini tak lebih dari hingar-bingar. Ruhnya meluntur. Jiwa, semangat dalam rangka menyambut bulan Ramadhan terasa hambar. Suara musik marching band dari Akpol Semarang lebih mendominasi. Dan itu disukai pengunjung, dari pada acara ritual yang telah disiapkan dalam masjid.
Sebenarnya tulisan ini termasuk memperoleh inspirasi yang terlambat. Karena sebenarnya saya lebih tertarik kondisi lingkungan. Bukan payung akbar yang meniru model Mekkah. Bukan karena menara yang menjulang tinggi meniru gaya menara kudus. Namun saya lebih respon terhadap sampah yang berada di area bersih. Terus terang saya agak kaget. Begitu akan memasuki lokasi masjid ada garis sebagai pembatas bersih. Artinya bila kita akan memasuki masjid, ada area halaman yang dijaga kebersihannya. Tidak boleh alas kaki melintas batas yang telah ditentukan. Anehnya, di sisi kiri kita akan masuk, sampah berserakan campur dengan alas kaki. Padahal daerah itu larangan.
Saya tidak heran. Ini adalah tempat umum. Yang datang dari berbagai lapis masyarakat. Sosial, ekonomi, budaya yang beragam. Mereka tak salah. Mereka sangat senang memiliki Masjid Agung Jawa Tengah yang berada di Ibu Kota Propinsi. Sedulur pesisir utara mendominasi kehadiran. Dari Tegal sampai lamongan. Berbondong-bondong melakukan wisata religi.
Sampah. Masalah klasik. Masalah kita semua. Bercerminlah kebersihan di rumah. Sama kan? Jangan heran. Punyakah tempatĀ  pembuangan sampah keluarga? Sudah berdermakah kita untuk urusan sampah di masyarakat? Sejak kapan kita menghargai tukang sampah? Contoh kecil uang belum hilang dari kebiasaan kita.
Mengelola masjid bukan perkara mudah. Janganlah sirkulasi uang infaq hanya berputar di urusan ibadah. Jangan pula hasil infaq jamaah hanya untuk pengadaan barang. Merawat lebih mahal bro. Memperbaiki jauh lebih rumit kawan. Cobalah tengok masjid yang kalian tiap hari tinjau. Berjamaah di sana. Bagimana warna catnya. Bagaimana sound system untuk adzan atau keperluan lainnya. Lihat halamannya. Dan ini, tempat wudlu swrta toiletnya. Bila setiap item tersebut sudah dirawat dengan baik, bolehlah kawan usul sama takmir Masjid Agung Jawa Tengah. Saya yakin tips saudara akan didengar oleh mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *