Menyebarkan Virus

Dalam sebuah penelitian di laboratorium didapat bahwa virus berkembang

menjadi dua kalinya setiap 20 menit. Bila mula-mula ada 10 virus,

berapa jumlah virus yang terjadi setelah 3 jam.

Tulisan diatas adalah salah satu soal matematika yang tertera dalam tes pendalaman materi dalam rangka menghadapi ujian nasional. Tes tersebut dilaksanakan untuk mengetahui tingkat daya serap terhadap materi pelajaran. Dari 40 soal yang diujikan, ada beberapa soal yang oleh siswa dianggap momok. Satu diantaranya adalah soal diatas. Sulit katanya.

Soal itu termasuk materi barisan bilangan. Disamping barisan bilangan, materi bunga dan bank juga dianggap sukar. Padahal kalau menerima bunga senengnya bukan main. Mengapa kalau berhitung bunga malah jadi bingung? Kalau dikatagorikan, barisan bilangan masuk dalam keluarga aritmatika. Berbeda dengan geometri atau aljabar. Aritmatika tergolong hitungan. Bahkan aritmatika bisa kita jumpai dalam persoalan sehari-hari. Prinsipnya cuma penjumlahan atau pengurangan. Perkalian dan pembagian hanya pengembangan dari bentuk penjumlahan dan pengurangan.

Menjawab soal diatas juga hanya hitungan penjumlahan saja. Bisa dihitung dengan cara biasa, tanpa menggunakan alat bantu seperti kalkulator. Kalau satu virus berkembang menjadi dua untuk tiap 20 menit, dan dari dua virus dapat berkembang lagi menjadi 4 setiap 20 menit berikutnya, maka virus dapat dihitung jumlahnya setelah 3 jam. Itu satu virus. Bila ada 10 virus tinggal mengalikan saja. Itu adalah hitungan simple, praktis. Namun menjadi sulit manakala soal tersebut harus diselesaikan dengan menggunakan rumus.

Dalam pelajaran matematika, sebenarnya rumus dipakai manakala logika telah berjalan dan mampu diterapkan dalam setiap mengerjakan soal. Bahkan tanpa menggunakan rumuspun sebenarnya bisa menyelesaikan soal-soal matematika. Hanya saja, siswa sudah terkena penyakit rumus. Sehingga, dalam bayangan siswa dan kebanyakan orang lain, bahwa matematika adalah sekumpulan rumus. Itu tidak benar. Pelajaran matematika justru menyenangkan. Asal jangan apriori dulu terhadap matematika.

Kembali ke soal diatas. Metode penyelesaiannya dapat diterapkan dalam bidang yang lain. Contoh simple adalah membaca. Bila satu orang dapat mengajak dua orang lain untuk gemar membaca, maka dalam waktu tertentu, dapat terbentuk sekelompok orang yang gemar membaca. Cara penularan kepada orang lain bisa juga hanya satu orang. Orang lain akan mengajak satu temannya lagi. Demikian pula dengan aktifitas yang lain.

Misteri waktu.

Virus, amuba adalah termasuk makhluk microbiologi. Perkembangbiakannya dapat dihitung dengan tepat. Demikian pula hewan ternak yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Beternak, perkembang biakannya juga dapat diprediksi dengan tepat. Peristiwa itu adalah kejadian biologis yang pengembangannya dapat dihitung dengan matematis.

Demikian pula dengan peristiwa non biologis. Misalnya, dalam waktu 4 jam seorang pekerja dapat membuat kursi sebanyak 10 buah. Dalam waktu 24 jam, seorang pekerja dapat diprediksi dapat membuat 60 kursi. Itu adalah kejadian fisik yang bisa dihitung. Kalau kejadian seorang mengajak orang lain untuk membaca, apakah lantas rumus di atas dapat diterapkan? Kalau ada 5 orang yang tergabung dalam komunitas gemar membaca misalnya, mengajak membaca, apakah lantas dalam waktu tertentu dapat diprediksikan ada 80 orang yang langsung gemar membaca?

Itulah misteri waktu. Variabel benda dapat dihitung. Variabel tempat dapat dihitung. Namun variable motivasi tidak bisa diprediksikan. Perlu upaya ekstra keras agar orang lain dapat melakukan pekerjaan, seperti yang kita inginkan. Dan sabar.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *