Merenda Pakaian Tuhan

Tiga fungsi utama pakaian adalah melindungi tubuh agar sehat, menutupi kekurangan agar tidak terlihat orang lain, dan memperindah penampilan agar terlihat nyaman memesona. Begitlah Al-Qur’an mengibaratkan pasangan suami istri dengan pakaian. Sufajkan pakaian kita berfungsi sebagaimana harusnya?

Betapa indah ketika al Qur’an menggunakan perlambang pada soal pasangan suami-istri. Al Qur’an menyebut pasangan suami-istri laksana pakaian. “…..mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian bagi mereka….” Secara sederhana, ayat ini dapat dipahami bahwa sang suami menjadi pakaian bagi sang istri, begitu juga sebaliknya. Tentu saja penggunaan simbol ini bukan tanpa tanpa maksud.

Pakaian memiliki banyak peran dan fungsi, tetapi setidaknya ada tiga hal penting yang bisa disebutkan di sini. Pertama, pakaian digunakan untuk menjaga kesehatan. Hal ini dipahami bahwa pakaian dapat mencegah dan melindungi dari terpaanmpanasnjuga dingin yang dapat mengganggu kesehatan. Kesehatan yang dimaksud bukan hanya pada soal kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Hal demikian yanh terjadi pada hubungan suami-istri. Masing-masing pasangan harus menjaga sikap agar satu sama lainnya terlindungi. Bahkan lebih jauh lagi, kedua pasangan harus membetika pelayanan yang maksimal agar masing-masing dapat terjaga kesehatannya.

Selain untuk menjaga kesehatan, peran dari pakaian yang kedua  adalah menutupi hal-hal yang tidak layak intuk diperlihatkan (aurat). Pada konteks ini, pasangan harus memiliki kesadaran untuk saling menutupi aib dan kekurangan masing-masing. Ketika seorang lelaki dan perempuan diikat dalam pernikahan, biasanya baru diketahui segala kekurangan masing-masing. Bila masing-masing tidak menerima segala kekurangan yang ada, maka petakapun akan terjadi. Masing-masing akan menguak kekurangannya pada pihak lain. Bahkan, rahasia keluarga dibeberkan kepada pihak lain yang tidak pantas untuk mendengar. Lalu tidak ada lagi rahasia. Bila demikian, kesucian sebuah hubungan telah ternoda, oleh diri mereka sendiri.

Kemudian, peran ketiga dari pakaian adalah pada aspek keindahan. Pakaian, dalam perkembangan memang bukan sekedar untuk kesehatan dan menutupi aurat lagi, tetapi juga memiliki nilai estetis. Bahkanbtidak jarang saat ini kita memilih pakaian lebih sebagai upaya untuk mempercantik diri. Dengan tetap berpijak pada kedua prinsip kesehatan, dan menutupi aurat, agaknya nilai puncak dari peran pakaian adalah keindahan dan kecantikan. Hal inilah sesungguhnya yang diharapkan dari pasangan suami-istri. Buka saja sang suami yang melihat keindahan pada sang istri, tetapi pihak lain (tetangga) pun dapat belajar akan keindahan yang dirajut pasangan ini. Betapa indahnya.

Disadur dari buku 250 Wisdoms karya DR. Komaruddin Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *