Uang Sekolah

Elementary School Student Counting on Fingers --- Image by © Redlink/Corbis

dokumen pribadi

Organisasi atau Lembaga tanpa keuangan sama saja dengan sekelompok orang yang berkumpul tanpa arah. Padahal organisasi adalah sekumpulan orang yang memiliki itikad dan tujuan yang sama. Tujuan tersebut akan dinikmati secara bersama-sama. Untuk mencapai tujuan diperlukan biaya. Demikian pula sebaliknya, hartanya melimpah tapi tanpa digunakan dengan dengan benar, jadilah harta yang menganggur. Ekonom bilang sia-sia.

Sekolah memiliki tujuan. Arah yang akan dicapai telah disepakati bersama. Oleh karenanya menggerakkan sekolah salah satunya dengan uang, meskipun tidak harus banyak. Dengan uang yang dimiliki, maka tujuan yang hendak dicapai akan terasa ringan karena segala kegiatannya dapat tercukupi.

Uang pemasukan sekolah dapat berasal dari pemerintah, orang tua siswa, atau donator. Sekolah negeri dan swasta memiliki sirkulasi keuangan yang berbeda-beda. Sekolah negeri mungkin tidak begitu menguras tenaga dalam mengais keuangan. Cukup membuat anggaran yang disetujui oleh komite, serahkan ke pemerintah. Tunggu beberapa saat, uang akan mengucur sendiri. Lain hanya bila sekolah swasta. Perlu pikiran tenaga, hanya untuk mendapatkan beberapa lembar ribuan saja.

Tulisan disini tidak akan membahas dari mana datangnya uang, tapi dengan uang yang telah tersedia, hendak kemana uang itu dimanfaatkan.

Dana yang biasa dimiliki oleh sekolah biasanya akan habis dengan dua jalur, yaitu pos untuk gaji rutin dan pos untuk sarana dan prasarana. Jarang sekali sekolah mengalokasikan biaya, diluar dua anggaran tetap itu. Mengapa bisa terjadi seperti ini? Karena sekolah memang belum siap untuk mengembangkan diluar dua pos itu. Bila ada kelebihan, pastilah yang dibahas adalah memperbaharui sarana (kalau perlu beli dengan versi terbaru) baru kemudian menaikkan gaji. Pengembangan sumber daya manusia? Ah…. Lupakan itu.

2 – 3 tahun kedepan, saya yakin sekolah masih bisa menjadi pilihan masyarakat. Namun saya tidak bisa memprediksi untuk 4 tahun kedepan. Apakah sekolah yang bersangkutan masih eksis atau ditinggalkan oleh masyarakat.

Pengembangan sumber daya manusia sudah semestinya menjadi prioritas utama disamping terus meningkatkan gaji dan penyediaan sarana yang memadai. Semakin meningkat daya saing dalam setiap aspek kehidupan, gurupun tidak luput dari daya saing.  Sehingga bidang sumber daya manusia SDM tidak bisa ditawar lagi.

Strategi untuk mengejar  SDM melalui baca dan tulis. Program baca dan tulis sebenarnya sangat mendukung untuk karier guru. Yang naik pangkat, naik jabatan biasanya akan selalu ditanya karya tulis. Sehingga kalau ditelusuri lebih lanjut, dengan guru menulis didapatkan dua hal paling tidak. Satu untuk gurunya sendiri, dan yang lain untuk kemajuan sekolah. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Sekolah mesti merencanakan dengan matang dan sekaligus karya nyata tentang guru menulis. Misalnya dengan mewajibkan tiap guru membedah sebuah buku. Hasil bedah dipresentasikan .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *