Kreatifitas dalam Menggambar

Belum begitu lama, ketiga anakku mengikuti kursus melukis di sebuah sanggar. Tidak jauh dari rumah jarak yang harus ditempuh ke arena itu. Harus menyeberang jalan yogya-solo melewati depan Rumah Sakit Islam (RSI). Mungkin lebih tepat rumah goresan, bukan sanggar. Bapak Karang Sasangka selalu teliti dan detil dalam membimbing anak buah. Setiap senin sore mengikuti gores pena yang disapu di atas kertas. Membentuk sesuatu, yang biasanya motif bunga, pemandangan atau hewan kesukaan anak-anak.

Awal mengikuti kursus menggambar hanya diberi sehelai kertas. Alat tulis membawa sendiri. sebagai dasar melukis, dipakai sebuah pensil. karena memang mudah memanfaatkannya dan bila terjadi kesalahan atau ketidak kesesuaian garis mudah dihapus. Goresan pensil itu lebih mirip sebagai sebuah terusan yang sebelumnya telah mahir mewarnai. Pembimbing menggambar sebuah bentuk, anak meneruskan dengan membubuhkan sapuan warna yang dimaui. Tentu dengan warna-warna kesukaan. Pink atau ungu adalah pilihan utama, sehingga warna itu selalu habis duluan dibanding dengan warna lain.

Memadukan warna sehingga nampak elok dipandang mata bukanlah persoalan seketika. Butuh waktu yang lama untuk bisa menyapu warna dengan ukuran yang pas. Karena sebuah lukisan dinikmati bukan untuk sendiri, tapi orang lain. Sangat wajar bila memadukan warna membutuhkan waktu yang tidak pendek dan juga perlu rasa. Olah rasa mungkin lebih tepat kalau mengkomparasi dengan warna aslinya. Pemilihan warna juga tidak sembarangan, kata sang pembimbing. Bukan saja apresiasi diri, tapi perlu proses pembimbingan. Penentuan warna dibutuhkan diskusi yang intensif dengan sang pelatih.

Penggunaan crayon memang berlangsung tidak singkat. Artinya bahwa crayon memang sebagai salah satu media. Masih banyak pewarna yang bisa digunakan. Disesuaikan dengan umur dan ketrampilan olah tangan dan ketajaman pemilihan warna. Ada waktu-waktu tertentu mengalami kejenuhan. Bila rasa ini datang menghampiri, maka lupakan menggambar. pilih kegiatan yang dapat membunuh kejenuhan. Sehingga tibalah saatnya menggunakan media lain yang biasa digunakan untuk melukis yaitu kanvas. Inilah citra rasa sesungguhnya bagi seorang pelukis. Pemilihan kanvas, sampai saat ini menjadi pilihan favorit bagi pelukis. Bahan mudah didapat, relatif murah, dan sangat cocok dengan alat tulis : pensil, pulpen, cat minyak, cata air atau lainnya. Ketiga anakku akhirnya memilih kanvas sebagai media lukisnya.

Awal menggunkan kanvas bukan perkara mudah. Ada masa-masa peralihan, yang semula memakai crayon tiba-tiba beralih ke cat air. Penggunaan cat air cukup waspada. Karena tidak bisa dihapus. Sehingga sekali pilih warna harus disesuaikan dengan selera dan kesetaraan dengan warna lain. Belum tentu ada kesamaan antara isi dengan warna bungkus yang tertera dalam botol. Maka pencampuran warna menjadi tak terhindarkan. Memiliki pengalaman dal;am mengaplikasikan atau mengkombinasikan warna sangat diutamakan.

Setelah koleksi dipandang cukup, tibalah saatnya untuk memamerkan hasil lukisan meskipun hanya di rumah. Namun setidaknya ada kebanggaan bagi sang pelukis manakala ada orang menanyakan hasil karyanya. Mulai dari ide menggambar, pemilihan warna, komposisi bentuk ataupun komposisi warna. Setidaknya sebuah senyuman mengambang di bibir sang komentator. meskipun saya tahu, sebuah senyuman yang sumbang. Dalam hatipun saya bisa menduga “masak lukisan kayak gini dipasang”. Tapi biarlah itu dunianya anak-anak. Saya tidak berhak mengatur mereka. Saya tak berhak untuk mengadili, karena saya sendiripun tidak mahir di dunia gambar-menggambar.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *