Van Dorp

sumber gambar : yogifajri.blogspot.com

sumber gambar : yogifajri.blogspot.com

Gedungnya baru dan mengesankan, serta buku-buku yang dijualnya ketika masih dipimpin pemilik lama, sangat mengesankan. Demikian tutur Alwi Shahab, dengan nada semi gundah. Van Dorp adalah sebuah toko buku sekaligus perpustakaan yang dimiliki oleh seorang belanda, berdiri kokoh seperti mall dan mengundang pengunjung terletak di Noordwijk (sekarang jalan Juanda). Predikat yang disandang adalah took buku terbaik di kota pada dataran jamannya.

Sekarang, Anda tak kan pernah akan melihat sosoknya. Ia telah berganti kulit menjadi Sarinah Internasional. Ada persamaan memang. Sama hingar-bingar, lalu-lalang orang bersliweran, menenteng tas bawaan. Hanya perbedaannya, bila masa Van Dorp, buku dan alat tulis yang dibawa. Saat sekarang, orang lebih berhasrat mengkonsumsi kebutuhan sehari-hari, kemeja, gaun, kosmetik, hingga VCD, DVD, gadget dan lain-lain.

Sebagimana layaknya mall, Sarinah menjanjikan sejuta impian. Tidak hanya untuk kebutuhan jual-beli. Tapi apapun sangat memungkinkan bila berada di mall. Tinggal uang saku harus tebal bila ingin bermain kesini.

Adalah Bung Karno, yang kala itu secara serampangan membuat kebijakan “nasionalisasi”. Perusahaan multi nasional yang telah berada dalam posisi tawar dengan perusahaan asing, dilibas dengan kebijakan itu. Memang dalam menasionalisasi perusahaan asing keberanian Bung Karno patut dipuji. Demikian pula keberaniannya dalam mencaci Amerika Serikat, yang kala itu dan mungkin juga sekarang masih mangaku sebagai polisi dunia. Maklum, Indonesia saat itu berkiblat ke Blok Timur. Khususnya China. Namun setelah orde lama tumbang dan berganti dengan orde baru, kiblat dalam bersosial politik ekonomi pindah haluan ke blok barat. Amerika menjadi kiblatnya bersama dengan Negara-negara eropa barat.

Pada masa nasionalisasi, para pimpinan BUMN ini banyak diisi oleh figur ABRI. Sejak masa itu dikenal dwifungsi ABRI. Hanya sayangnya, jabatan di BUMN tidak diikuti dengan SDM yang memadai. Mis manajemen merambah hampir disetiap lini. Bisa diduga akibatnya. Satu per satu rontok seperti daun jatuh dari pohon.

Setali tiga uang. Nasib perpustakaan di era masa kini. Perpustakaan Hatta yang berada di Yogyakarta tak terurus hingga kini. Koleksi buku yang bermutu tinggi, hanya rayap yang menyantap dengan rakusnya. Kucuran air berjatuhan dari atap yang bocor membasahi kilap lantai. Anda mungkin masih ingat took buku “Thay San Kongsie” yang belakangan menjelma menjadi toko buku “Gunung Agung”. Anda pasti ingat sosok Tjio Wey Tay. Ia tak lain adalah Haji Masagung. Ia mendirikan toko buku pada tahun 1953 di jl. Kwitang. Di Tahun 1991 menjelma menjadi perusahaan public. Nasibnya? Tak ada info yang menggembirakan.

Kenapa di lingkungan kita, sedikit, sangat sedikit, luar biasa sedikit membaca buku? Demikian, tulis Taufiq Ismail, seorang dokter hewan yang berkiprah di dunia sastra, pencipta lagu “Tuhan”, karya legenda yang dilantunkan Bimbo, dan pula seorang pewarna sastra Indonesia. Beliau berteori, Etiologi dan epidemi, musabab penyakit kronis ini terletak sejak dari hulu sampai hilir sungai lembaga pendidikan kita, yakni terlantarnya kewajiban membaca buku sastra di sekolah-sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *