Van Dorp (2)

(Kupu-kupu di dalam buku)

Sebagai rekanan dalam tulisan Van Dorp 1, saya kutipkan sebuah tulisan Taufiq Ismail dalam bentuk puisi. Beliau masih optimis menatap generasi dimasa depan, yang akan selalu membaca. Ia berangan-angan menjadikan perpustakaan bukan saja sebagai rujukan utama ilmu pengetahuan, tapi tempat yang sejuk dan teduh bagi manusia Indonesia, yang memberikan pencerahan pada akal dan sukma, menuju peradaban yang mendapat naungan Tuhan Yang Rahim dan Rahman.

Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api,

Diruang tunggu praktek dokter anak, dibalai desa,

Kulihat orang-orang disekitarku duduk membaca buku,

Dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,

Di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku

Dan cahaya lampunya benderang,

Kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua

Sibuk membaca dan menuliskan catatan,

Dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang

Ketika bertandang disebuah toko,

Warna-warni produk yang yang dipajang terbentang,

Orang-orang memborong itu barang

Dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran

Dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang

Ketika singgah di sebuah rumah,

Kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya

Dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu putrinya, kemudian katanya,

“tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,

yang tahu tentang kupu-kupu”

Dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,

di setasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,

di perpustakaanperguruan, kota dan desa buku dibaca,

di tempat penjualan buku laris dibeli,

dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu

tidak berselimut debu

karena memang dibaca

 

Taufiq Ismail, 1996

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *