Pembelajaran Budaya Lokal

sumber gambar : baltyra.com

sumber gambar : baltyra.com

Dolanan anak adalah warisan dari budaya nenek moyang. Mereka menciptakan permainan buat anak-anak yang memang masanya bermain, namun bukan sekedar main-main. Didalamnya terkandung ajaran atau filosofi yang sarat makna. Hasil ciptaannya mampu bertahan hingga puluhan tahun. Hingga kini, dolanan anak yang sempat hilang dari peredaran karena dilindas modernisasi, tetap dicari. Bahkan, dolanan anak dibangkitkan kembali seraya diiringi dengan kompetisi. Dolanan anak di tempat tertentu menjadi kajian yang mendalam dalam perspektif psikologi, pertumbuhan jiwa dan raga, antropologi dan lain-lain.

Permainan anak termasuk budaya lokal yang mahal harganya. Dilihat dari konteks pendidikan, dolanan anak mengajak untuk bermain bersama. Hampir semua permainan anak-anak tempo dulu hanya bisa dimainkan bila bersama-sama. Bukan sendirian. Tidak seperti game yang sekarang merambah ke android. Dolanan anak selalu mengajak bersama. Maknanya bahwa mainan jenis ini untuk bersosial dengan teman-teman. Kalah menang hanyalah bagian dari permainan. Setelah bermain usai tertawa bersama. Tak ada timbul rasa kecemburuan. Inilah dasar dari pendidikan. Tumbuh kembang bersama karena masing-masing anak memiliki karakter yang berbeda. Satu dengan lainnya mampu memahami sifat individualnya.

Dolanan anak, memang memerlukan kemahiran tertentu. Memerlukan perhitungan yang matang. Anak yang mahir dan mampu berhitung dengan cermat biasanya selalu unggul. Namun demikian ada sisi yang lain yaitu adanya rasa. Bermain tak hanya ketangkasan, hitungan, trampil namun perlu juga adanya perasaan, mengetahui dengan seksama perilaku sifat orang lain. Inilah yang menimbulkan sifat empati dengan lawan. Tidak arogan. Dalam pendidikan sering kita sebut dengan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. 3 dogmatis dalam pendidikan inilah yang ada dalam dolanan anak-anak sebagai bagian dari budaya lokal.

Budaya lokal yang kita agungkan sesungguhnya memiliki keunggulan dibanding dengan budaya luar. Budaya lokal adalah sebuah karya cipta anak negeri yang disesuaikan dengan alam dan sifat manusia. Orang yang bermukim di pegunungan akan berbeda dengan yang hidup di pesisir. Keduanya tidak bisa di samaratakan. Karena karakternya berbeda. Namun mereka dengan bijak dapat memanfaatkan alam dan sumber daya manusia secara cerdas. Contoh nyanyian daerah. Mereka menciptakan dengan menonjolkan karakter alam dan manusianya tapi tetap santun. Tidak menonjolkan kesukuannya. Wajar bila budaya lokal setempat dapat diterima oleh orang lain. Sehingga dolanan anak menjadi semakin beragam. Anak-anak memainkan dengan riang gembira.

Akibat dari pergaulan, maka yang tidak bisa dihindari adalah pertukaran antar budaya. Budaya menjadi berujud irisan. Satu dengan lainnya saling memahami. Budaya tak lagi menjadi milik kesukuan tapi sudah milik bersama. Karena perkawianan budaya, maka sangat memungkinkan ada peluang untuk berkompetisi dengan masyarakat lain. Dalam seni tari, sudah biasa manakala seseorang memainkan sebuat tari Sumatra yang dipadu padankan dengan gaya jawa. Demikian pula sebaliknya.

Budaya lokal yang telah menyatu dengan kehidupan, pada akhirnya menjadi kebiasaan. Kebiasaan inilah yang sulit untuk lepas dari pola kehidupan kita. Sehingga budaya lokal akhirnya mewarnai dalam setiap langkah kita. Bila ada hal-hal baru dari luar selalu dikomunikasikan dengan budaya yang telah melekat dalam benak kita. Peristiwa dialog ini yang menjadikan budaya lokal selalu menjadi rujukan jikalau akan menerima budaya baru yang datang dari luar. Oleh karenanya melestarikan budaya lokal sangat dianjurkan bagi warga Negara dengan model pembelajaran yang bisa dikuasai. Bisa lewat pendidikan di keluarga, masyarakat ataupun sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *