Apresiasi Seni Tari

sumber gambar : indonesia-kaya.com

sumber gambar : indonesia-kaya.com

Suatu saat saya berkesempatan untuk melihat pagelaran seni tari yang dikemas dalam “Geliat Nusantara : dalam koreografi 3”. Acara ini digeber oleh mahasiswa Seni Tari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Tontonan rutin saban tahun, setiap jelang akhir tahun pelajaran. Meskipun tidak tiap tahun saya melihat kreasi seni tari, namun tetap mengikuti perkembangannya. Yang saya maksud perkembangan, hanyalah sebatas penyelenggaraannya saja. Sebab saya buta terhadap sebangsa tari, joget, ajojing atau sebangsanya. Hanya orang-orang yang ahli saja yang dapat menilai keindahan sebuah seni tari.

Jika mengapresiasikan, siapapun boleh. Pertunjukan tari ini merupakan tugas akhir. Karena penyelenggaraan seni tari ini memerlukan budget yang besar, maka diberi keleluasaan untuk membentuk grup yang terdiri dua mahasiswa. Mereka bukan hanya menyiapkan kreatifitas tari, tapi yang mesti harus dipersiapkan : kostum, latihan, uang transport asisten tari, pemusik, sound system, sewa gedung dll. Kali ini saya menyaksikan pagelaran tari ini dengan membawa sejumlah siswa yang tergabung dalam ekstra kurikuler seni tari. Harapannya agar siswa mengetahui perkembangan seni tari, kegiatan pendukung tari, seperti seperangkat music, manajemen pengelolaan pertunjukan.

Saya bawa kealam mimpi terlebih dahulu. Karena dari impian, setidaknya satu langkah ke depan dalam meraih cita-cita. Karena lakon yang dipentaskan, saya hanya menyaksikan kira-kira 7 tari. Yang bisa saya abadikan hanya 4 macam.

BATINGNA LEBONNA Kisah sejati Lebonna dan Massudilalong yang diangkat dari cerita rakyat yang berujung pada kematian Lebonna yang tragis demi memenuhi janji setianya terhadap Massudidalong. Dodeng Mangrambi Mandedek, Dodeng ma’pa tuang-tuang, rampanampi padedekmu, annapi te kamali’ku. Ammu parangina mati. Ammu tanding talingana’… prampoanpa kadungku, pepasan mase-maseku, lako to Massudilalong muane sangkalamma’ku…. Angku dol, angku mete, tae’ si la matane lasisarak sunga’na ulli’-ulli’ soladuka borro sito’doan duka… o Rendengku… Mukua duka la sang mateki e so’ee… Paerengan o… Rendengku. (yang bisa terjemahkan sendiri)

BRONSAGER Yang namanya kreatifitas diamanapun bisa dilakukan. Tari ini dilakukan oleh ibu-ibu di dapur. Nunsa yang disajikan suasana dapur tradisional. Tidak ada barang elektrik. Bronsager diambil dari kata bahasa inggris “Brown” dan “Sugar” yang artinya gula coklat. Tari ini menggambarkan produktifitas masyarakat dalam membuat gula semut. Tepatnya di daerah Kulon Progo. Karena di pedesaan maka kebersamaan menjadi menu utama. “Temandhang gawe sayuk rukun, ojo podo padu maranbg konco sak pegawean” (tafsirnya : Mari bekerja secara bersama-sama. Jangan berbuat onar dan cekcok dengan sesamanya)

WURASMARA Damarwulan. Wanita mana yang tidak kepincut, termehek-mehek dengan Damarwulan? Tari ini digambarkan bahwa Damarwulan merupakan pemecah persahabatan dua wanita yang saling setia, kebersamaan dalam suka, yaitu Wahito dan Puyengan. Tak salah bila ada kalimat satir yang dilontarkan di akhir cerita. Damarwulan…. Ksatria pemikat hati dua dewi. Wahai Damarwulan….. Aku mabuk cintamu hingga lupa daratan.

BEDAH ALAS LODOYO Inilah tari yang paling energik. Glamour. Musiknya rancak. Pendukungnya luar biasa. Tidak sia-sia meski harus membawa topeng reog yang beratnya lebih dari 20 kg. Cerita kepahlawanan yang diangkat dari tanah Kediri. Cerita ini berawal dari Raja Ponorogo (Klono Sewandono) yang berniat melamar putri Kediri (Dewi Songgolangit) namun ditengah perjalanan tepatnya di alas Lodoyo, Ia dicegat oleh raja Singobarong. Dan terjadilah peperangan anatara kedua raja tersebut. Akhirnya peperangan dimenangkan oleh Raja Klono Sewandono.
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *