Mewaspadai Perilaku Anak

sumber gambar : koran-jakarta.com

sumber gambar : koran-jakarta.com

Pembaca yang telah memiliki anak, pasti pernah merasa was-was saat anak berperilaku yang bukan dari kebiasaannya. Situasi seperti ini banyak melibatkan semua anak. Baik yang masih kecil maupun yang akan atau sedang aqil baligh. Tiba-tiba anak jadi pendiam, murung dan galau. Mereka acuh tak acuh dengan keadaan di rumah.

Sebagai orang tua, yang peduli dengan keadaan anak tentu tak akan berlama-lama membiarkan kondisi anak yang demikian itu. Orang tua akan mencari sebab musabab anak menjadi pendiam. Ada berbagai cara yang dilakukan orang tua. Biasanya, ia akan bertanya kepada teman bermaian. Atau tetangganya yang anak sering bermain. Berbagai usaha dilakukan orang tua hanya karena ingin mengetahui perilaku anak diluar kebiasaan.

Akan menjadi lain manakala orang tua tidak terlalu risau dengan keadaan anak. Baginya, anak hanya lelah atau malas ngobrol bareng keluarga. Orang tua memandang hal yang biasa. Padahal sesungguhnya, orang tua belum sempat untuk berbicara dengan anak. Masalah keluarga masih dinomor duakan. Lebih penting pekerjaan yang akan menghasilkan finansial, dibandingkan harus sharing dengan anak.

Selalu meluangkan waktu bercengkerama dengan keluarga, atau lebih enjoy dengan pekerjaan adalah pilihan. Namun manakala orang tua menemukan anak yang memiliki tanda-tanda di bawah ini perlu waspada.

Komunikasi dengan keluarga menurun kualitas dan kuantitasnya Kuncinya adalah kesempatan. Meluangkan waktu perlu manajemen tersendiri. 24 jam dalam sehari merupakan harta berlimpah. Tak berkurang, tidak juga bertambah walaupun sedetik. Bila manajemen pengaturan waktu telah dilakukan secara berkesinambungan, maka akan menjadi kebiasaan. Orang bilang, tak perlu waktu lama, tapi sharing dengan keluarga yang penting kualitas. Pendapat ini juga pilihan. Pembaca pasti lebih bijaksana dalam menilai.

Tidak kerasan di rumah Orang tua jarang sharing dengan keluarga, mengakibatkan anak tidak krasan di rumah. Jangan dikira bahwa yang punya masalah hanya orang tua. Anakpun punya masalah. Besar kecilnya problem, sangat tergantung dari cara menyelesaikan secara pribadi. Bagi orang tua mungkin masalah yang dihadapi anak tergolong kecil. Tapi bagi anak adalah problem besar, yang harus diselesaikan dengan bantuan orang lain. Disinilah keberadaan orang tua sangat diharapkan oleh sang anak.

Curhat ke orang lain Bagi anak, karena keluarga bukan lagi tempat untuk yang terbaik untuk mencurahkan isi hati, anak akan lari dari keluarga. Orang lain menjadi tumpahan kasih sayang. Bila hal ini dibiarkan terus menerus, bukan tidak mungkin rahasia keluarga akan diketahui oleh orang lain. Gelisah dan Resah Bahasa sekarang lebih dikenal dengan “galau”. Resah dapat dilihat dari cara duduk, cara berjalan, cara makan.

Gelisah dapat dilihat dari raut wajah yang kusut. Gelisah dan resah adalah tanda-tanda yang paling jelas dilihat dengan mata. Emosi labil sepanjang hari Karena masalah tidak terpecahkan, hati menjadi galau, maka akan berdampak pada emosi yang berkepanjangan.

Emosi yang disebabkan karena kebutuhan finansial, seperti lapar, haus dapat diselesaikan dengan cepat. Tapi emosi yang disebabkan karena masalah yang tidak terpecahkan akan memakan waktu yang lama.

Tuntutan dan Keinginan tidak wajar Beberapa waktu tahun yang lalu, ada seorang pelajar bunuh diri dengan cara tidur di atas rel saat kereta api berjalan. Tewas seketika. Setelah diselidiki, ternyata permintaan anak tidak bisa dipenuhi oleh orang tua. Gara-gara orang tua tidak mampu membelikan sepeda motor.

Sekarang, ada seorang anak teman saya minta dibelikan mobil jazz. Teman saya seorang guru. Istrinya usaha salon kecantikan. Mungkin pembaca pernah menemui putra/putrinya minta sesuatu di luar kemampuan finansial.

Manajemen Diri dan Waktu nya Terganggu Anak yang mendapat curahan kasih sayang yang cukup, tidak akan mengalami hambatan dalam mengejar prestasi. Salah satu cara untuk menggenggam prestasi dengan menata waktu dan menata pribadi secara proporsional. Bila pengaturan waktu dan manajemen pribadi tidak mendapatkan aktifitas yang tepat, maka raihan prestasi menjadi terganggu.
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *