Memperbaiki dan Memotivasi

Predator sexual sedang marak. Bahkan masyarakat tidak segan menengarai kekerasan seksual terhadap anak sudah masuk ke katagori siaga satu. Media asing menulis bahwa Indonesia merupakan Negara dengan tingkat pedofilia paling tinggi di Asia. Setelah kasus Jakarta International School, berturut-turut terungkap kisah Andri Sobari alias emon, tragedi karyawan taman kanak-kanak di Surabaya.

Secara medis, luka akibat kekerasan seksual dapat disembuhkan dalam waktu relatif cepat. (Dalam kasus tertentu penyakit yang ditimbulkan tahap penyembuhannya memerlukan waktu yang lama). Secara psikologis, dampak dari kekerasan seksual terhadap anak perlu waktu yang lama. Bisa jadi untuk waktu yang akan dating, korban kekerasan ini justru menjadi aktor utama (predator), seperti yang dialami emon.

Masyarakat, dalam perannya sebagai pendidik memiliki tanggung jawab yang besar dalam rangka menyelamatkan generasi tanpa kekerasan seksual. Ada 3 cara yang Insya Allah bisa menjadi terapi.

Pertama. Suasana berprestasi.

Memberi peluang anak untuk tidak beraktifitas, akan memantik kejadian-kejadian masa silam. Anak menjadi tidak percaya diri, minder, serba salah. Dalam beberapa situasi boleh jadi anak akan memiliki pikiran “balas dendam”. Lingkungan yang acuh tak acuh memiliki peluang yang besar untuk membentuk pribadi yang predator.

Masyarakat, terutama orang tua dan lembaga pendidikan mestinya menjadi gerbong untuk menyembuhkan luka psikis dari anak yang menjadi korban pedofilia. Dengan memanfaatkan waktu secara optimal, pelan-pelan luka akan terkikis. Sekolah harus menjadi sumber aktifitas anak untuk meraih prestasi. Pemanfaatan waktu, tidak hanya sekedar mengisi kekosongan, namun yang lebih penting adalah penggalian potensi yang dimiliki anak.

Kedua. Kebutuhan bermasyarakat

Dalam era globalisasi, sendi-sendi kerekatan dalam masyarakat akan memudar. Dahulu, anak tidak bisa bermain sendirian. Bermain bersama menjadi ciri khas keakraban anak. Gotong royong dalam masyarakat sudah jarang ditemukan. Anak sekarang, dapat bermain meskipun cuma sendiri.

Tanamkan jiwa bahwa bermasyarakat merupakan kebutuhan mutlak. Bermasyarakat tidak hanya sekedar hidup bersama, tapi menuai kelebihan dan kekurang dari anggota masyarakat sendiri. Tidak disarankan, anak korban pedofila untuk menyendiri. Ajak mereka untuk bermain. Ajak mereka untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Berikan kebebasan untuk melakukan eksperiman selama masih dalam koridor kearifan local setempat.

Ketiga. Memberi keleluasan untuk berkuasa.

Berilah kebebasan kepada anak agar mereka mampu mengatur dirinya sendiri. Buatlah kesepakatan bersama, agar di lingkungan anak tumbuh kompetisi yang sehat. Tumbuhkan lingkungan kepemimpinan. Memupuk jiwa kepemimpinan yang handal justru tumbuh dalam masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *