Desainer yang Usil

sumber gambar : pengrajinlogo.blogspot.com

sumber gambar : pengrajinlogo.blogspot.com

Dua hari lalu, kerabat saya Ella uring-uringan seharian. Apa pasal? Menurut dia, pada kanal head lines kompasiana versi terakhir tidak bisa di-klik. Padahal ia sangat membutuhkan informasi yang tercantum dalam head lines. Saking kesalnya, ia menyumpah-nyumpah via facebook.

Saya yakin, kompasioner adalah masyarakat pembaca. Mereka mungkin tidak butuh tampilan yang rumit. Prinsipnya user friendly. Brlayar kesana kemari, asal mudah di klik. Komposisi warna juga tak begitu dipermasalahkan. Bahkan, gambar juga bukan pertimbangan yang utama bagi kompasioner mengunjungi sebuah tulisan. Walaupun dalam hal tertentu gambar juga bisa mendukung isi sebuah tulisan. Menampilkan gambar dalam sebuah tulisan bukan perkara mudah. Bila tidak pas penempatannya, justru malah memudarkan isi tulisan itu sendiri. Pagi pembaca, yang penting tulisan tidak terlalu kecil. Nyaman dibaca.

Sebagai seorang yang gemar desain, kadang-kadang saya mengamati secara lebih rinci perubahan tata letak kompasiana, dari waktu ke waktu. Memang desainer butuh ketelitian. Ukuran, warna, tata letak, pemanfaatan ruang kosong adalah beberapa hal yang sangat dipertimbangkan oleh desainer. Merekapun jeli terhadap perkembangan kompetitor.

Kalau kemudian kompasiana sering berubah bentuk, bagi saya, itu adalah jiwa kedinamisan. Kita butuh perubahan. Bila tampilan kompasiana mengalami perubahan bentuk dengan interval waktu yang singkat, kita maknai sebagai suatu penyegaran. Fresh.

Tim lay out kompasiana banyak dihuni oleh anak-anak muda, itu perkiraanku. Sebagimana jiwa seorang pemuda adalah petualangan. Ingin coba-coba. Ini berbanding terbalik dengan orang-orang yang sudah mapan. Sehingga wajar bila desainer terkadang suka usil. Namun dengan keusilan itu, justru menampilkan muka baru.

Kata usil, saya jadi teringat beberapa waktu silam ketika nonton film Saving Private Ryan. Kala itu saya ditemani teman yang kebetulan berlatar belakang teater. Biasanya kalau filmnya menarik, kami terlibat diskusi. Ada sebuah adegan yang sebenarnya tidak perlu dalam alur cerita film tersebut, itu pendapatku. Tapi kenapa potongan adegannya cukup menyita perhatian. Teman sayapun menjawab, itulah sutradara yang sok usil

Seorang desiner biasanya menomorduakan yang sebetulnya dibutuhkan pembaca. Pembaca pasti ingin dimanjakan. Tidak perlu ribet ribet. Berbeda dengan programmer. Mereka punya pandangan bagaimana seorang pemakai dapat menggunakan programnya dengan mudah. Perkara tampilan, belakangan.

Dari dua devisi yang berbeda inilah sebenarnya pihak manajemen harusnya melakukan perkawinan. Manajemen juga harus mampu mengeksplore bidang yang lain. Tekinisi, penanggungjawab konten, tim jaringan dan lain-lain. Manajemen juga memberi keleluasaan agar tiap bagian mampu melakukan terobosan. Sesekali usil bolehlah.

Sebagai seorang yang dianggap desainer yang tidak pernah lulus, saya pun sering melakukan hal-hal yang cukup usil, Contohnya ini, bagaimana seorang Menteri Pendidikan juga menjadi pengawas ujian sampai ketingkat sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *