Calon Desainer

sumber gambar : efhlt.blogspot.com

sumber gambar : efhlt.blogspot.com

Saya baru sadar. Beberapa hari yang lalu, saya ketemu teman. Obrolan kali ini tentang anaknya, sebut saja Bagus. Sudah sekitar 2 tahun ini Bagus berada di Pondok Pesantren. Oleh ayahnya, Bagus digadang-gadang kelak menjadi seorang ulama. Cita-cita yang luhur, setidaknya di mata ayahnya, yang tak lain teman saya.

Sebenarnya sudah dua kali Bagus hidup di Pondok Pesantren. Pertama sewaktu masih SMP dia mondok di dekat rumah, daerah Klaten Jawa Tengah. Saat ini, Bagus mondok di Pondok Pesantren di daerah Yogyakarta. Bila benar, apa yang keluar dari mulut ayahnya, sebenarnya Bagus tidak krasan untuk hidup di Pondok.

Dulu, saat masih di SD Bagus ternyata sudah pernah kursus menggambar. Beberapa kali malah memperoleh prestasi yang membanggakan. Belum lama ini (di SMA), Bagus bahkan mendapat juara satu untuk desain gambar iklan. Mendapat hadiah yang cukup besar untuk ukuran SMA. Padahal, sudah lama sekali dia tidak aktif mengikuti kelas menggambar.

Dari obrolan itu, sebisa mungkin saya ikut menyumbangkan pikiran tentang desain (khususnya grafis).

1. Ulama tidak hanya pinter ahli pidato. Berdakwah lewat lisan sudah banyak yang bisa, bahkan mereka canggih-canggih dengan segala spesifikasinya. Namun berdakwah lewat desain, apalagi kartun masih sangat langka. Mengapa peluang yang langka ini tidak dikembangkan? Melihat potensi yang dimiliki Bagus, sangat mendukung untuk menjadi seorang kartunis, yang dapat menyisipkan nilai-nilai agama dalam setiap lakon. Atau dapat menyampaikan pesan-pesan agama lewat desain iklan.

2. Ekspresi Jiwa. Potensi anak hendaknya jangan diukur dari orangtua. Ekspresi anak biasanya bisa diketahui saat anak berumur 3 – 4 tahun. Bila orangtua jeli, maka peluang dapat digenggam. Saya teringat apa yang dikatakan Ali Bin Abi Thalib, bahwa anak dilahirkan bukan untuk generasimu, tapi mereka akan hidup pada masa mereka sendiri.

3. Kerja In-House. Saat ini masih banyak pencari kerja mengerucut di kantoran. Orang tidak dikatakan keren bila tidak kerja di kantor. Pagi berangkat, sore atau bahkan malam baru tiba di rumah. Bila masih single mungkin tidak apa-apa. Toh yang menerima gaji dia sendiri, digunakan untuk dia sendiri. Namun kalau sudah berkeluarga baru mikir. Kapan ketemu suami/istri dan anak?

4. Desain tak hanya di arsitektur. Sekarang arsitektur menjadi bagian dari seni desain. Arsitektur yang ketat dengan aturan-atruran yang harus ditempuh. Desain telah mengembang menjadi berbagai macam cabang. Semuanya, bila didalami dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan uang. Yang semula hobi, sekarang menjadi pekerjaan. Tidak ada dalam kehidupan ini tanpa desain. Dengan Desain semuanya menjadi indah.

Itulah obrolan yang tidak penting antara saya dengan teman saya. Tulisan ini telah dikembangkan dengan membaca beberapa buku dan selancar di web. Tapi sang ayah tetep keukeuh pada pendirian, agar kelak si Bagus menjadi ulama menurut versi ayahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *