Dinamisasi Organisasi

Beberapa hari yang lalu saya sempat membesuk tante saya, yang opname di rumah sakit Sardjito setelah sebelumnya selama satu minggu mondok di rumah sakit umum wonosobo. Sebagimana biasanya, orang terprovokasi oleh omongan orang lain, bahwa rumah sakit Sardjito adalah salah satu rumah sakit rujukan. Selama hampir satu minggu tidak ada perkembangan yang berarti, om saya terprovokasi juga oleh kabar dari orang lain, dibawalah pasien (tante) ke Yogyakarta dengan tujuan rumah sakit Sardjito.

Tiga malam berturut-turut, saya menyempatkan diri membesuk. Saya juga bisa bertemu dengan saudara sesama trah dari mbah saya. Sudah barang tentu kesenangan yang muncul dari hati saya, karena lebaran kemarin tak sempat bersua dengan mereka.

Ada waktu luang yang saya manfaatkan untuk jalan-jalan menyusuri lorong pemondokan. Disebuah dinding yang sengaja ditempel beberapa pigura berisi tentang visi, misi, tujuan dll. saya tertarik pada sebuah border strategi khususnya butir pertama, yang bertuliskan “mengembangkan organisasi yang hemat struktur, kaya fungsi dan manajemen psrtisipatif”.

Ada tiga kata kunci menurut hemat saya, yaitu mengembangkan organisasi yang hemat struktur, kaya fungsi dan manajemen partisipatif.

Organisasi yang hemat struktur sejalan dengan minimalis. Alur kerjanya sedikit, orang yang akan melaksanakan juga sedikit, pendelegasian tugas juga tidak membengkak. Otomatis akan menghasilkan kinerja yang efektif dan efisien. Biaya yang tidak mendukung geliat proses bisa ditekan, sehingga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Struktur yang ramping menjanjikan dinamika sebuah organisasi akan lincah. Tidak tambun. Di beberapa sektor dapat meminimalkan keramaian manusia. Orang yang banyak biasanya akan menimbulkan keputusan yang lambat. Debat menjadi agenda rutin, yang hanya menghasilkan kata-kata, tanpa diimbangi dengan pola kerja yang mumpuni.

Struktur yang ramping tidak harus meniadakan job yang telah digariskan. Personal yang terlibat dalam sebuah organisasi bisa saling mengisi lobang. Bila ada sebuah pekerjaan, walaupun bukan bagian dari tanggungjawabnya, ia senantiasa senang mengerjakan.

Saya pernah berdebat dengan teman perihal efisiensi karyawan. Kebetulan saat itu teman saya bekerja pada sebuah pom bensin. Suatu ketika dia melihat pemilik pom bensin membersihkan lantai. Ia mengatakan “kenapa sih… kok pake repot harus menyapu lantai, dia kan bisa saja menyuruh karyawan untuk membersihkan lantai”. Saat itu juga saya menyatakan tidak sutuju dengan omongan teman saya. Prinsipku bahwa bekerja itu adalah kebutuhan. Manakala ada sampah, saat itu juga dibuang. Tidak harus menyuruh tukang sapu.

Inilah yang saya maksud merampingkan struktur, namun harus diikuti dengan mengoptimalkan kinerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *