Seragam

seragam

Saya pernah punya dosen, orangnya nyentrik. Seorang dosen fisika, pintar dan cerdas. Menurut pengakuannya, dia hanya mau memakai seragam korpri tiap tanggal 17 saja. Itupun cuma untuk upacara. Selepas itu, seragam dilepas. Dikenakannya baju yang lain.

Ia tak pernah mengendarai mobil pribadi, karena memang tidak punya. Setiap pergi ke kampus mengendari mobil angkutan sambil membawa penumpang. Sesampai di kampus mobil sudah beralih ke kernet yang merangkap sopir.

Buya Syafi’i Ma’arif, menurut pengakuannya juga tak pernah memakai seragam yang telah disediakan oleh kampus. Dalihnya cukup sederhana. “Dengan berpakaian seragam akan membawa pikiran yang seragam”.

Di lembaga manapun, seragam merupakan kebutuhan. Karena dengan seragam akan menghindari pemakaian busana yang saling berlomba-lomba ke tingkat yang lebih mahal. Memakai seragam juga bermanfaat untuk meningkatkan kinerja. Disitu, tidak tampak antara atasan dan bawahan. Mereka kompak mengerjakan meskipun bagiannya berbeda-beda.

Namun, ada sisi negatif bila pemakian seragam dikenakan setiap hari. Tidak ada media ekspresi bagi si pemakai. Padahal ekspresi diri sangat perlu untuk menambah motivasi dalam bekerja. Orang yang ekspresi dirinya tinggi biasanya sejalan dengan kinerjanya yang tinggi pula.

Pemakaian busana yang tidak seragam, memungkinkan pemakai untuk memakai pakaian yang enak dikenakan dan elok bila dipandang orang lain. Paikian yang enak dipakai akan membuat nyaman dalam bekerja dan tampil percaya diri.

Di sekolahku, selama enam hari dalam seminggu memakai seragam. Ada seragam yang merupakan ketentuan dari pemerintah, ada pakaian yang diatur oleh yayasan,  serta seragam sesuai ketentuan sekolah. Sehingga praktis tidak ada satu haripun media ekspesi dalam berbusana.

Senin. Ketentuan pakaian diatur oleh pemerintah daerah, seragam kheki. Bagi yang pegawai negeri mendapat jatah dari pemerintah. Guru dan karyawan sekolah swasta harus usaha sendiri. Warna, kalau hanya mirip banyak tersedia di toko.

Selasa dan Kamis. Seragam batik sesuai dengan aturan pemerintah daerah. Relatif ada kelonggaran dalam memilih corak dan warnanya. Namun, batik tidak begitu nyaman dipakai manakala harus bepergian untuk keperluan tertentu.

Rabu. Seragam hijau sesuai dengan aturan Dinas Pendidikan. Bagi guru PNS dapat jatah, yang bukan PNS berusaha sendiri. Kalau mencari di toko warnanya berbeda. Sehingga kalau dipakai malah tidak seragam. Jenis kainnya tidak ada yang bagus. Kalau dipakai terasa panas. Tidak nyaman untuk bekerja. Pemakai juga tampil kurang percaya diri.

Jum’at. Seragam batik sesuai denga  ketentuan yayasan.

Sabtu. Seragam sesuai aturan sekolah. Setiap tahun dapat dipastikan mendapat seragam baru. Namun jenis kainnya serasa kurang nyaman dipakai. Warna, biasanya terlalu lembut (feminim), sehingga kurang bergairah dalam bekerja.

Mestinya ada porsi 2 hari, untuk tidak memakai seragam. Saya yakin, dengan tidak memakai seragam, banyak teman-teman yang akan memakai pakian yang nyaman dipakai dan tampak elok bila dipandang. Mereka akan memilih busana yang nyaman untuk bekerja.

2 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *