Menikmati Hari Guru di Malaysia

sumber gambar : blogfina.com

sumber gambar : blogfina.com

Waktu pertama kali masuk ke negeri Jiran, kebetulan saat itu bertepatan dengan Hari Guru. Sama seperti di Indonesia, Hari Guru juga di peringati di Malaysia. Rupanya memang guru harus diapresiasikan sesuai dengan kemampuan dan proporsional. Beruntung saya bisa menyaksikan Hari Guru di Malaysia. Kalau menurut catatan, hari guru jatuh tanggal 19 Mei.

Saya menyaksikan momen tersebut saat berada di Universitas Utara Malaysia. Suasananya demikian akademik, karena pelaksanaannya diisi dengan berbagai macam temu ilmiah. Tanggal 20 Mei bagi bangsa Indonesia merupakan hari Kebangkitan Nasional. Disaat bangsa kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional, saya dan rombongan malah melancong ke negeri tetangga. Toh, bukan asal jalan-jalan belaka. Ada misi yang hendak kami emban dengan mengunjungi Malaysia. Tak lain adalah “ngangsu kawruh – jawa”, menimba ilmu. Persoalannya sudah tidak lazim lagi membangkitkan pepatah : dulu Malaysia belajar pada kita. Sekarang kita malah belajar dari Malaysia.

Isu utama dalam pendidikan menurut saya adalah kesempatan. Mereka mampu melaju dalam bidang pendidikan. Mereka gesit dalam mengambil peluang dari era globalisasi. Sebuah jaman, dimana siapapun yang cepat mengail kesempatan, dialah yang akan meraih hasil. Bidang pendidikan, sebenarnya memiliki peluang yang sama dengan bidang-bidang yang lain, semisal teknologi. Infrastruktur, akses pengetahuan, sumber daya manusia dalam posisi yang sama. Hanya mungkin orang menganggap bahwa pendidikan masih dapat dipolitisasi oleh pemangku jabatan. Demikian dikatakan Prof. Madya DR. Mohd. Izam Bin Ghazali. Dekan Pusat Pengajian Pendidikan dan Bahasa Moden.

Lebih jauh, beliau menyoroti antara profesi dengan etika. Satu sisi, profesi dapat berjalan cepat, sementara disisi lain, etika malah masih bertalian dengan nilai-nilai teknis masa lalu. Padahal, kemajuan sosial dan teknologi boleh berlari kencang. Semestinya etika dapat dikembangkan dengan konsep Ilahiyah, tetapi dikemas dalam bentuk kekinian. Prof. Izam juga menginginkan bahwa latar belakang pendidikan seorang pendidik harus selalu dimutakhirkan. Namun tetap menjaga keseimbangan antara akal dan nurani. Balance antara dzikir dan pikir.

Pada sesi berikutnya, Datuk Hasan Harun adalah Kepala Sekolah Wadi Sofia College. Beliau memaparkan konsep “Hala Tuju Pendidikan Negara Alaf ke-21” yang diterjemahkan secara bebas : Tujuan Pendidikan Nasional abad ke-21. Dalam kertas kerjanya, beliau lebih banyak menyinggung pengembangan siswa agar mampu mandiri dan memiliki intelektual yang tangguh. Sekolah bertaraf Internasional dengan memakai model asrama ini memang menjanjikan. Beberapa prestasi dapat diraih lewat forum-forum Internasional. Kalau mau mewariskan kepada anak, alternatif yang terbaik dengan memberi kesempatan.

Ada 3 nara sumber yang diberi kesempatan untuk membagi ilmu dan pengalamannya. Datuk Hassan Harun, Prof. Dr. Suharsimi Arikunto dan Dr. Widodo. Dua yang terakhir adalah dosen pada Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Sesi yang dipandu oleh Prof. Madya Dr. Nuraini Yusoff. Dalam forum yang dikemas dalam bentuk dialog ini, peserta forum menginginkan agar konsep-konsep pendidikan yang termaktub dalam Islam dan Tujuan Pendidikan dapat diterapkan. Hingga sekarang, masih terjadi kesenjangan antara idealisme (dipindai dalam Visi dan Misi) dengan realita di lapangan. Harus ada gerakan yang dapat merajut antara yang hendak digapai dengan kondisi saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *