Moratorium Ujian Nasional

unas

sumber gambar : lensaindonesia.com

Pro kontra dalam kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhajir Effendi terkait dengan penghapusan ujian nasional (unas) untuk jenjang SMP dan SMA/SMK terus bergulir. Ibarat sebuah jalan, kedua kubu menuju lorong yang tiada akhir. Masing-masing memiliki argumen cukup kuat antara tetap dilaksanakannya unas atau ditiadakan.

Muhajir Effendi sendiri, setelah menemui Presiden Jokowi sangat percaya diri bahwa ujian nasional tinggal menunggu regulasi Keputusan Presiden. Mendikbud beralasan bahwa moratorium penghapusan unas ini sejalan dengan konsep Nawacitanya Presiden Jokowi. Pemerintah akan menerapkan desentralisasi pendidikan. Mahkamah Agung, 7 tahun yang lalu juga sudah menetapkan bahwa ujian nasional layak untuk ditiadakan.

Alasan lain yang menguatkan unas ditiadakan adalah menghindari orang tua stress tahunan. Tidak sedikit orang tua yang justru tidak bisa mengendalikan emosi setiap akan menghadapi ujian nasional. Sedangkan anaknya justru mengabaikan. Ini membuktikan bahwa sebenarnya yang bernafsu untuk mendongkrak prestasi anak adalah orang tua.

Terlepas dari setuju atau tidak setuju, ujian nasional memang menggiurkan bagi semua pihak. Amanat Undang-undang menetapkan bahwa anggaran untuk pendidikan 20%. Pos ini termasuk dalam katagori gemuk dibanding dengan mata anggaran yang lain. Siapa yang tidak terpesona dengan dana ratusan milyar demi mencerdaskan anak bangsa. Akibatnya, banyak kepentingan tangan untuk turut serta campur tangan dalam masalah pendidikan.  Motif ekonomi menjadi lebih mencolok dibanding dengan misi pembelajarannya. Semua pihak menjadi merasa ikut terlibat.

Pendidikan masa lalu dengan saat ini memang sangat berbeda. Dilihat dari materinya, pastilah berkembang. Ditopang oleh kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan didorong oleh globalisasi, esensi pengetahuan menjadi mekar tak terbatas. Manusia sendiripun ikut terpana dengan perkembangan pengetahuannya. Karena demikian cepat, yang tak sesuai dengan prediksi semula.

Ada yang hilang dari inti pengetahuan. Ruh ilmu menjadi kosong tak berisi. Inti dari pengetahuan itu adalah kejujuran, kepedulian, keterikatan dengan lingkungan. Pengetahuan hanya dipandang sebagai kompetisi yang harus dikejar entah dengan cara apapun. Mereka lupa bahwa pengetahuan bisa berkembang karena jasa orang lain. Namun begitulah kalau kompetisi sudah masuk wilayah liberal. Bebas untuk mengapresiasikan.
Ada ujian nasional atau tidak, kita dihadapkan pada realita bahwa didepan mata kita sendiri ada anak-anak yang harus diselamatkan moralnya, diberi bekal ilmu, diperbanyak ketrampilan, memberi amanah bahwa hidup tidak sendirian. Itulah sebenarnya inti dari pembelajaran. Bahwa pendidikan itu memang sangat penting, tapi tidak meninggalkan sisi kemanusian yang demikian agung.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *