Seribu Makna Membimbing Anak

Anak kita, berapapun jumlahnya, memiliki keunikan tersendiri. Bila lebih dari satu, masing-masing punya talenta yang berlainan. Tak perlu dirisaukan. Setiap anak membawa berkah kata orang bijak. Suasana keluarga justru menjadi semarak. Tidak monoton. Ada yang pendiam, usil, cerewet, dan lain-lain. Dunia menjadi lebih berwarna.

Sudah beberapa minggu belakangan ini, ada salah satu dari anak kita suka bicara sembarangan, cenderung tanpa aturan. Bahkan sering terdengar berkata kasar atau lebih tepatnya tidak memiliki kesantunan. Dari mana anak kita mendapatkan perbendaharaan kata sampah itu? Apa sudah tahu benar maksudnya berkata seperti itu?

Kata orang ahli, anak belajar dari lingkungan. Dan cepat sekali menyerap. Anak  belum tahu makna yang terkandung dalam ucapan kotor seperti itu. Tanpa sadar, televisi yang sering kita hidupkan dan lebih banyak tidak ditonton telah menjadi pengasuh anak. Televisi menjadi orang tua tunggal yang bebas nilai. Bisa jadi melalui audi lainnya seperti radio misalnya, yang secara tak sadar kita hidupkan. Atau lewat suara tetangga yang sedang mengumpat.

Anak yang berumur seputar 3 tahunan semakin mengenal dengan dunia sekitar serta kemampuan dirinya. Mereka bisa merasa senang manakala menemukan benda yang diinginkan untuk dibuat mainan. Diihak lain mereka juga merasa kesal kalau yang diinginkan tidak ia dapatkan. Disaat itulah dengan seketika anak mengumpat sebagai ujud kemarahan. Anak mengucapkan kata yang tidak senonoh, karena ucapan itu memang mudah sebagai kompensasi. Bila sesuatu yang ia idamkan belum juga didapatkan, anak lebih neringas lagi dengan membanting atau melempar barang yang ada disekitar.

Menghadapi anak seperti ini tidak perlu risau, tak perlu marah-marah. Karena sesungguhnya yang ia ucapkan tidak mengetahui maknanya. Pertama biarkan anak berkata seperti itu, sambil didekati, apa maunya anak. Penuhi permintaannya selama ada dan tidak membahayakan bagi dirinya atau orang lain. Anak terlihat marah, sebenarnya hanya satu saja keinginannya. Kedua, sambil memenuhi keinginan anak dan sambil bermain, jelaskan sedikit bahwa kata-kata itu tidak baik. Anak mulai diperkenalkan tentang sopan santun dalam berbicara. Bahwa orang lain akan sakit bila anak mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh. Ketiga, bergaul dengan teman atau orang lain sebaiknya harus hati-hati. Berikan pengertian pada anak, bahwa bergaul dengan sesamapun ada adat istiadatnya, ada aturannya.

Dari beberapa cara di atas, sebenarnya orang tua sudah membimbing anak untuk memasukkan anak ke dalam lingkungannya. Orang tua sudah berperan aktif bersosialisasi dengan lingkungan dengan memberi arahan bagi anaknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *