Cemburu

Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Bagi yang tidak memelihara burung, mungkin pembaca tak sengaja mendengar cuitan burung tetangga. Kicauan yang katanya menggoda, karena saya sendiri tidak tahu jenis nada sang burung bernyanyi, akan menambah pundi-pundi. Sebut misalnya Murai Medan atau love bird. Jenis burung seperti ini akan membantu sang tuan menuju tangga kemuliaan. Materi atau kehormatan. Materi karena hasil jualnya mahal. Kehormatan  karena menang dalam bernbagai lomba.
Tahukah pembaca, bahwa burung tersandra ini, sejatinya ingin bebas. Terbang meliuk di udara berkejaran atau sekedar bercengkerama hinggap di dahan sambil berteriak bebas sebebasnya. Kicauan burung di alam bebas sejatinya cermin nada yang asli. Original. Sehingga bagi yang sempat mendengar nyanyian burung liar ini, sesungguhnya telah dimanjakan gendang pendengarannya dengan nada termerdu.

Burung bebas, akan selalu mencari makan untuk bekal hidup seharian dalam jumlah yang cukup. Mereka menikmati rizki tak lebih dari untuk hidup sehari saja. Burung betina dan jantannya akan selalu mendahulukan anak mereka. Kedua burung itu berjibaku dengan sesamanya untuk saling mendahului dalam berburu makanan. Belum lagi intaian sang pemburu yang sewaktu-waktu bisa memangsa burung. Bisa dengan ketapel, tembakan atau yang paling laknat dimangsa hidup-hidup.
Melihat siklus burung yang bebas seperti ini melahirkan kecemburuan di kalangan makhluk yang sangat mulia, manusia. Saat manusia masih mendengkur, kawanan burung sudah harus menjemput rizki. Burung akan sangat senang bila memperoleh hewan kecil. Namun kalau mangsa favorit tak jua didapat, ia juga tidak menyia-nyiakan hasil rempah-rempah. Keadaan yang berkebalikan dengan manusia. Mereka akan menjemput rizki, dengan berbagai cara untuk mendapatkan sesuatu yang diidamkan.
Hanya manusia bersyukur yang dapat mengambil hikmah dari kehidupan burung. Seperti, pedagang asongan atau makanan ringan untuk memenuhi kebutuhan manusia saat pagi hari. Mereka berangkat sebelum jam 5 pagi. Mereka bisa jadi telah mempersiapkan barang dagangannya mungkin sebelum subuh. Saya tidak berbicara dengan penjual sayur yang datang dari pelosok dusun. Pedagang sayur ini berangkat dari rumah jam 1 an dini hari. Karena jam 3 segera akan didistribusikan lagi ke pengecer. Hanya sebagian manusia yang mampu menyerap ritme kehidupan burung.
Janganlah meniru komunitas semut saat berburu harta. Kebiasaan semut identik dengan aji mumpung. Mumpung berkuasa, memanfaatkan kekuasaaanya demi keluarga dan kolega. Mumpung kaya, menumpuk harta demi mencari status sosial. Kebiasaan semut terkadang melebihi dari tingkat kemapuan yang ia miliki. Mencari makan sebesar berlipat dari besar tubuhnya sendiri. Atau kalau sedang berkumpul, mereka membawa makanan sebesar lebih dari kemampuan komunitasnya. Sehingga kalau dilihat dengan seksama, makanan akan habis untuk 1 minggu sampai 1 bulan kedepan. Berbeda dengan burung yang hanya menyediakan makan untuk cukup barang sehari.
Karena di alun-alun purwokerto pagi ini tidak ada burung, pikiran saya menerawang puluhan tahun silam saat masih sering blusukan ke sawah atau hutan. Beruntunglah, saya melihat secara langsung pedagang asongan yang menjajakan daganganya kepada pelari atau pejalan kaki di hari minggu pagi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *