Navis

navis 2

dokumen pribadi

Navis. Demikian beliau dipanggil. Pemilik nama asli Ali Akbar Navis adalah sastrawan dan budayawan yang lahir di Kampuang Jao Padang Panjang Sumatra Barat. Sebuah propinsi yang melahirkan sastrawan sebelum masa kemerdekaan. Atau sering disebut sastra Indonesia modern. Gaya bicaranya ceplas-ceplos apa adanya, lebih tepat kita sebut orang yang berpandangan hitam putih, lahir pada 17 November 1924 dan meninggal 22 Maret 2003. Hasil karya yang monumental ialah Robohnya Surau Kami. Novel yang bercerita tentang perubahan masyarakat yang berakibat retaknya sendi-sendi adat ninik mamak.
Hampir satu abad melintasi segala zaman, menurunkan beberapa generasi, dan berjarak ribuan kilometer, seorang anak lahir dengan nama sama yaitu Navis. Lengkapnya Muhammad Aditya Navis. Panggilan sehari-harinya Dede. Seorang lelaki berperawakan kecil mungil tapi memiliki tenaga dan potensi yang amat besar. Keduanya memiliki nama yang sama yakni Navis. Keduanya juga memiliki kemampuan yang hampir sama. Bila Ali Akbar seorang sastrawan, maka Muhammad Aditya Navis adalah seorang seniman. Penyanyi. Penulis yakin masih banyak anak manusia yang bernama Navis, tapi belum semoncer mereka berdua.
Dede lahir dari pasangan Bapak Hamdi, SKM dan Ibu drg. Chanis Sukma di Bantul. Sebuah kabupaten yang terletak di selatan kota Yogyakarta. Beliau berdua  punya profesi yang sama, bergerak dalam bidang kesehatan. Apakah Dede akan menapaki jalan yang sama dengan kedua orang tuanya? Kita tunggu saja.

Penulis jumpa pertama kali dengan Dede saat dia masih kelas 6 SD. Ceritanya, saat SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta menggelar kegiatan Try Out, Dede mengisi salah satu acaranya. Kebetulan grup bandnya Dede semuanya siswa SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Dari sanalah kami tertarik. Secara kebetulan, Dede pun pengen masuk di SMP muhammadiyah 4 Yogyakarta. Dan ternyata cita-cita Dede terlampaui masuk di sekolah kami. Di sekolah termasuk anak yang periang. Tak heran banyak teman yang menyukai.
Sekarang Dede duduk di kelas 7. Sudah mulai tengah semester ganjil kemarin, ia mengikuti ajang kompetisi khusus anak-anak berbakat dalam bidang tarik suara. Indonesian Idol Junior namanya. Sebuah event yang sangat bergengsi. Kehadirannya selalu ditunggu anak muda. Dunia entertainment adalah dambaan insan yang beradrenaline tinggi. Yang layak untuk bermain di tempat ini, adalah anak-anak yang bermental baja dan mereka mampu mengelola segenap potensi yang dimiliki.
Mulai dari babak Audisi sampai dengan babak 3 besar, Alhamdulillah Dede berhasil menapaki. Jenjang demi jenjang dibutuhkan tenaga dan konsentrasi yang cukup keras. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi seorang bocah dari desa mBantul.
Namun begitulah. Kompetisi yang terbuka, biasanya akan melahirkan insan yang berkarakter mumpuni. Ia kini sedang mempersiapkan persaingan menuju babak grand final. Dede harus beradu yang terbaik menuju 2 besar. Hanya vote dari penggemar yang bisa mengantarkan Dede menuju kursi idaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *