Menanti Navis di Puncak

navis-21a

Tinggal satu tangga lagi yang harus dilalui Navis untuk bisa meraih puncak. Seorang bocah dari sebuah dusun di sudut Bantul telah membuktikan bahwa di era Teknologi Informasi ini, ternyata bisa menjejakkan kakinya dalam ajang yang sangat bergengsi. Indonesian Idol Junior. Bahwa dimanapun manusia berpijak asal memiliki kemampuan dan mampu bersaing, disitulah kesuksesan digenggam.
Kaki kuat nan kukuh sudah menancap hingga urat membuncah sampai relung sekujur tubuh. Empat kaki siap untuk berderap menggapai impian. Dua orang Idol Junior saatnya harus bertarung dalam grand final. Siapapun juaranya, kata sang juri dan pengamat musik sudah bukan lagi masalah. Karena keduanya memiliki karakter yang berbeda. Hanya mereka yang mampu bertahan dan secara terus menerus mengasah keprofesionalannyalah yang akan mendapat sambutam dari masyarakat.

Meski hanya satu tangga namun tak mudah untuk dipeluk. Butuh energi yang super ekstra agar sisa langkah terakhir ini berujung dengan keceriaan, kebahagiaan dan keridloan. Komunikasi yang terus dijalin dengan audience akan membantu menemukan kejayaan menjadi yang terbaik. Tanpa dukungan yang penuh dari penggemar dan simpatisan mustahil untuk menuju tangga tertinggi.
Hari ini Navis diberi kesempatan untuk bersua dengan kerabat di sekolahnya. SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarya. Dia akan bernostalgia dengan teman sejawat setelah cukup lama meninggalkan bangku sekolah. Bapak dan Ibu guru tentu cukup kangen. Sambutan yang cukup meriah ini dipersembahkan buat Navis yang telah mengharumkan nama Sekolah. Cukup beruntung SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta mendapatkan anak yang memiliki talenta yang tinggi dengan suaranya yang khas.
Dengan pengawalan komunitas kendaraan VW, Navis diusung mulai dari bandara, menyusuri jalan solo, dan berbelok arah kiri saat di tugu. Malioboro adalah tempat legendaris bagi warga Jogja. Disinilah seperti Orchad Road. Namun Malioboro jauh lebih melegenda karena punya nilai historis dengan keberadaan Kraton Yogyakarta khususnya dan Negara Indonesia. Menyusuri jalan Malioboro ibarat perjalanan spiritual yang mampu maraup energi agar kelak bisa menundukkan tantangan.
Setelah Malioboro terlewati, arah berikutnya adalah Alun-alun lor. Sebua tempat yang tak terpisahkan dari sejarah Yogyakarta. Ia memendam dokumen dan memori sejak Kerajaan Mataram berdiri hingga sekarang. Nilai dan falsafahnya mampu mengayomi setia warga yang melintas alun-alun lor Yogyakarta.
Konvoipun berlanjut melewati jalan protokol. Pada akhirnya berhenti tepat di depan SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta.
Di Sekolah, Navis diterima dengan sangat meriah dari Bapak dan Ibu guru serta kerabatnya. Kepala Sekolah, Ibu Hj. Rini Diah Herawati memberi motivasi agar Navis tabah dan diberi kekuatan untuk menuju tangga juara. Sebaliknya Navis berharap agar keluarga besar SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta mendukung secara tulus dalam perjalanannya. Navis segera akan pulang sejenak ke rumahnya. Kangen-kangenan sama kerabat keluarga dan bernostalgia dengan kawan-kawan di kampungnya. Diharapkan sore hari Ia akan bertemu dengan Bupati Bantul untuk mohon doa restu dalam berjuang. Lusa ia harus terbang ke Jakarta. Berjibaku yang sesungguhnya dan akan menaklukkan segala rintangan.
Doa telah dilantunkan dengan penuh kesyukuran dan pengharapan. Pinta tak lelah dilafalkan agar kehendak bisa diraihnya. Selanjutnya manusia berusaha sekuat tenaga sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kalah dan menang soal waktu. Namun kemenangan sesungguhnya adalah apabila semua bisa menjalankan tugas dan kewajiban sesuai pekerjaannya.

navis-22a

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *