Raja Salman dan Kepedulian

54c7fa67-f73f-45f9-b44e-f0f18f66a6c7_169

Pagi dini hari tadi dapat tulisan Prof.DR. Musa Asy’ri via wall face book. Tulisan beliau cukup menggelitik terkait dengan kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al-Sa’ud. Kesan beliau dari kunjungan Raja Salman ke Indonesia, dikorelasikan dengan pengalaman saat menjalankan umroh. Tulisan lengkapnya saya sadurkan secara utuh.

Siang ini Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al-Sa’ud tiba di Indonesia dengan membawa rombongan yang besar, dengan 8 pesawat, membawa mobil dan tangga escalator dan semua peralatan yang diperlukannya. Bagi kalangan raja raja yang kaya raya, mungkin sudah sesuai standar yang ditetapkan, untuk keselamatan dan kenyamanan para raja raja kaya itu. lima tahun yang lalu ketika umroh, apa yang ditampilkan oleh raja dan kenyataannya di lapangan sangat berbeda jauh. Sebagai bagian dari umat Islam dunia, tentunya jalan Mekkah ke Madinah adalah jalan yang amat penting yang menghubungkan dua kota suci, dan kalau kita berhenti ke toilet untuk buang hajat, rasanya tidak nyaman, karena tidak diperhatikan faktor kebersihannya. Apalagi fasilitas toilet di tenda saat ibadah haji di Mina. Apa mungkin pemerintah Arab memandang umat Islam itu umat yang kumuh, sehingga tidak diperlukan toilet yang bersih? Padahal annadlofatu minal iman, kebersihan adalah bagian dari iman. Kekayaan raja dan kerajaannya pasti bisa membangun toilet yang nyaman dan bersih bagi jutaan jamah haji dan umroh, karena mempunyai dana yang sangat besar. Tetapi mengapa urusan penting ini tidak mendapatkan perhatian. Kita tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan semuanya itu. Kita tidak sedang menghakimi Raja, kita tidak mempunyai hak untuk itu, tetapi sebagai bagian dari umat Islam dunia, bolehlah memohon dengan melihat fakta yang ada, karena kita juga membayar visa.

Dari tulisan diatas, dapat tanggapan dari kolega dan sahabat dengan berbagai sudut pandang. Ada yang setuju, ada yang kontra namun tak jarang memberi alternatif lainnya.
Saya belum pernah menginjak kakinya di tanah suci. Tapi analoginya sudah dapat saya tarik benang merahnya. Ada Kepala Daerah yang benar-benar menunjukkan sebagai abdi negara dan abdi masyarakat. Namun tak jarang kita temui pemimpin yang hanya mementingkan diri sendiri, keluarga dan sahabatnya. Sehingga hasil pembangunan tidak begitu dirasakan warganya. Bahkan sering menimbulkan konflik, dan keretakan sosial. Sarana dan prasarana yang tidak memadai.
Saya kira tulisan di atas bisa dijadikan cermin kita sebagai pribadi maupun bagian dari masyarakat yang hendak menata kehidupan yang lebih.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *