Tim Hore Navis

20170305_071502

Tak disangkal, sekarang Navis telah jadi artis. Enam bulan lalu ia hanyalah anak kecil yang punya suara bagus. Kebetulan juga masuk ke SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta. Karena pandai bernyanyi seketika langsung dikenali oleh semua siswa.
Dede, demikian panggilannya. Ia bergaul dengan teman sekelas biasa saja. Bermain seperti layaknya masih SD. Saling ejek ciri khas mereka. Saling umpat adalah istiadatnya. Namun begitu bel masuk, semua hilang rasa permusuhan. Kembali ke kelas mendengarkan petuah guru, mengasah kenampuan otak dan saling berkompetisi. Itulah ritme sehari-hari di sekolah kami.

Sejak bulan september tahun lalu, Dede hilang dari gurauan. Dede tak terlihat batang hidung meski cuma sejenak. Anak periang itu tiba-tiba raib dari keusilan pergaulan mereka. Benar, Ia mengikuti ajang yang sangat bergengsi, Indonesian Idol Junior. Sebuah persaingan prestisius yang dihelat di studio MNC TV.
Tangga demi tangga dilalui, peluh demi peluh ia rengkuh. Berapa ratus bintang kecil berbakat  terbantai cuma karena suara tak layak tampil di kotak layar. Berapa puluh peserta tumbang karena cuma karena vote. Beberapa kali juri mengatakan, bahwa peserta yang mampu menaklukkan panggung adalah mereka yang  bersuara bagus. Tak disangsikan lagi.
Hari ini saatnya menguji kemampuan sesungguhnya. Hari grand final. Waktunya untuk mencari yang terbaik. Bukan saja olah vokal, tapi harus menguasai kemampuan entertainmentnya.  Kami, sebagai salah satu keluarga besar selayaknya untuk mangayubagyo penampilan Navis di babak final. Menyaksikan langsung di studio MNC TV.
Semula direncanakan akan mengutus tim yang lumayan banyak. Namun atas pertimbangan kegiatan sekolah yang bersamaan dengan Ulangan Tengah Semester dan latihan Ujian, maka setelah melalui berbagai macam untung-rugi, tim  hanya menyertakan 4 orang sebagai tim hore.
Moda transportasi yang dipilih semula adalah mobil. Praktis dan mudah. Kemanapun oke. Tapi disisi lain, kami juga harus memperhatikan stamina. Akhirnya dipilihkah besi panjang sebagai kendaraannya. Joko Tingkir namanya. Kereta api ekonomi dengan start dari Solo. Mengingatkan pada sebuah legenda atau cerita rakyat, bagaimana kedigdayaan seorang bernama Jojo Tingkir menaklukkan buaya dengan bekal tangan kosong. Tidak diceritakan ilmu kanuragan yang dikuasai. Belum ada Tapak Suci. Belum ada akik bacan atau pualam lainnya. Saat itu orang tua akan sangat bangga bila memiliki anak lelaki diberi nama Joko. Tapi sekarang nama Joko sudah mulai ditinggalkan. Jadilah Joko hanya sebuah nama kereta api dan majalah Joko Lodang. Eh….. presiden sekarang namana Joko ding…..
Berangkat dari stasiun Lempuyangan sabtu tepat pukul 19.00 sesampainya di stasiun Pasar Senin pukul 03.50. Setelah berkemas dan istirahat sejenak, kami ambil air wudlu untuk melaksanakan sholat subuh. Musholla cukup rapi, nyaman, tapi nyamuknya banyak sekali. Rasa kantuk tak bisa dihindari. Rasa capek belum hilang  bersama edaran darah. Di sini kami tidak krasan. Rombongan langsung tancap gas ke Monas berbaur dengan pejalan kaki dan penggemar olah raga pagi. Dari sini kami tetap masih dalam suasana ritual. Berdoa akar Navis dapat mencapai puncaknya. Rasa was-was masih menyelimuti. Di Monas ini kami menjadi saksi, mudah-mudahan anak seorang nDeso dari mBantul mampu menjadi kampium.

Monas, 5 Maret 2017

 20170305_071806

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *