Dunia Entertainment memang Glamour

idol

Aku berbisik dalam hati

Mungkinkah ini kan terjadi sesungguhnya
Kulangkahkan kaki menyusuri
Panggung pemilihan ratu sejagad
Putar ke kiri balik ke kanan
Senyum sana senyum sini ikuti irama
Oh semua tepuk tangan
Seiring ku berlalu
Sampai menghilang dibalik layar

Akupun bersorak lepas kegirangan
Tapi terjatuh dari kursi goyang
Kiranya ku mimpi uuhhh jadi ratu sejagad semalam.

Voc : Vonny sumlang
Penggalan syair lagu di atas adalah bertutur tentang seseorang yang berangan-angan menjadi ratu sejagat. Vonny Sumlang membawakan lagu ini dengan sepenuh jiwa, menghipnotis pendengar seakan menjadi realita sesungguhnya. Siapa yang tidak ingin menjadi orang yang tiba-tiba dibutuhkan oleh dunia? Menjadi duta perdamaian, menjadi duta segalanya meski waktunya hanya setahun. Dengan fasilitas yang serba wah……
10 tahunan yang lalu, sebelum marak acara panduan ajang berbekat, Vonny Sumlang telah memprediksi posisi seseorang meraih kesuksesan atau cuma bermimpi. Hanya ada dua pilihan. Sukses atau gagal. Kalau tak ingin kecipratan getah jangan bermain di area itu. Karena persaingan amat ketat. Bahkan orang bilang kejam.
Acara pencarian bakat di Indonesia seringkali disamakan dengan acara vocal, musik, namun ada juga acara yang tidak berfokus hanya pada bakat musik. Pertama kali tayang adalah Akademi Fantasi Indosiar. Disusul Indonesian Idol menjadi ajang pencarian bakat yang sukses meraih banyak pemirsa televisi di era 2000-an.
Sebelumnya, pada tahun 90-an, ajang pencarian bakat yang cukup banyak menarik perhatian adalah Asia Bagus yang disiarkan di TVRI dan RCTI yang berhasil mengorbitkan sejumlah penyanyi kenamaan Indonesia seperti Krisdayanti dan Dewi Gita.
Ajang ini tentu sangat berbeda dengan bila seseorang berkarier sebagai seorang penyanyi yang tumbuh lewat jalur lain. Umumnya penyanyi era sebelum 90an, mereka menapaki lewat panggung pertunjukan. Kesuksesan mereka diukur dari seberapa banyak ia diundang untuk pentas. Seberapa sering ia akan menebeng ketenaran artis yg telah memperoleh nama. Ini berbeda dengan era sekarang.
Calon penyanyi bisa akan selalu berada di depan kamera tergantung vote penonton. Semakin tinggi kiriman sms dan terus menerus, memberi kesempatan kepada calon untuk bertahan. Sehingga ukurannya bukan kemampuan vocal, bukan penguasaan panggung, tapi nyawanya tergantung kiriman sms atau vote. Korban yang pertama kali jatuh adalah Mawar. Ia kalah bersaing dengan kontestan lain hanya karena tidak mendapat guyuran sms yang cukup.
Dari berbagai tayangan acara di TV ini, menjadikan budaya anak semakin terpacu untuk terjun ke dunia entertainment dengan mencoba mengadu nasib dalam bidang tarik suara. Muncullah bagai cendawan di musim hujan berbagai kursus vocal. Anak-anak menjadi semakin keranjingan karena imbalan yang akan diperoleh sungguh glamour.
Berbagai macam lomba nyanyi pasti dipadati. Panitia tak pernah mengalami kerugian.
Alih bakat menjadi seperti gelombang yang dipaksakan. Mestinya seorang anak memiliki bakat di ketrampilan tangan tapi karena ikut budaya, akhirnya turut dalam rombongan keterpaksaan, yakni bernyanyi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *