India dan Cina

Warga keturunan India di Amerika, kini tak bisa dipandang sebelah mata. Sekarang banyak warga India yang berkiprah menjadi pejabat, ilmuwan, konsultan bahkan ada yang menjadi politikus. Banyak penasehat hukum terkemuka di kota-kota besar seperti Singapura dan Hongkong.
Di satu sisi, di India banyak sekali orang pandai. Bahkan pernah menjadi back ground di salah satu film James Bond. Artinya, bisa menjadi indikator bagi orang luar mengakui bahwa kebudayaan India cukup unik. Dalam khasanah keilmuan ada yang mengatakan bahwa perkembangan filsafat matematika berasal dari daratan Hindi. Bandingkan dengan Indonesia yang pernah memiliki bumi Nusantara.

Namun, hingga kini, infrastruktur negara ini sangat ketinggalan zaman. Di Ibu kotanya sendiri, New Delhi, banyak ditemukan jalan yang tidak layak untuk dipakai. Padahal jalan raya sangat vital bagi pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan. Masih banyak pula ditemukan rumah di pinggir jalan yang tidak layak, disamping juga peminta-minta.
Mengapa India yang memiliki begitu banyak orang pintar, tenaga ahli yang seabreg, cerdik pandai enggan untuk membangun infra struktur yang layak? Mengapa Orang India yang berada di luar negeri tidak mau kembali ke negirinya, bersama-sama membangun negeri?
Di negeri Cina, berlaku kebalikannya. Loncatan perilaku masyarakat demikian cepat. Di tahun 50 – 70 an, banyak yang memprediksi bahwa cina tak akan jauh berbeda dengan Uni Sovyet yang sama-sama memiliki ideologi komunis, meskipun beda cara. Di tahun itu, Indonesia sedang giat-giatnya membangun setelah melalui masa orde lama yang penuh dengan intrik politik. Di Singapura tercatat Perdana Menteri Lee Kuan Yu, siap menyisingkan lengan, mengibarkan negaranya.
Kekaisaran Qing adalah raja terakhir di China. Dr. Sun Yat Sen merupakan seorang rovolusioner. Ia  memimpin langsung pemberontakan. Dengan partainya Koumintang, banyak masyarakat yang terjun langsung ke jalan, karena mereka sudah jenuh dengan sistem kerajaan. Kekaisaran Qing ini sangat lemah, maka tidak sedikit panglima di daerah-daerah melepaskan diri dari kekaisaran.  Sementara dua kekuatan mulai menunjukkan tajinya. Dari selatan ada Koumintang, dari utara  muncul kekuatan Komunis.
Karena terus didesak, akhirnya Pangeran Pu Yi akhirnya harus melarikan diri. Sun Yat Sen tak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan menggandeng tokoh-tokoh komunis, Ia memimpin revolusi cina. Pada akhirnya Sun Yat Sen meninggal, partai Koumintang tidak memiliki penggantinya, hingga terdesak dan akhirnya menuju ke Taiwan. Sedangkan Cina sendiri Partai Komunis yang berkuasa.
Saat Partai Komunis berkuasa, saat itulah ekonomi benar-benar terpuruk. Banyak warga negara yang lari dari negeri tirai bambu untuk mencari kehidupan yang layak, termasuk ke Indonesia. Banyak sejarah yang sudah mengalir ke telinga kita, betapa mengerikan hidup di negeri cina saat Mao Ze Dong berkuasa.
Itulah mengapa banyak pakar menganalisa bahwa cina perlu waktu yang lama untuk bisa menandingi perekonomian di tingkat Asia. Namun ramalan ternyata meleset. Untuk bangkit lagi dengan jumlah penduduk yang lebih dari satu milyar bukan persoalan yang gampang. Perlu keajaiban. Ibarat seorang  dukun yang diminta tolong, mantranya sudah teruji dan ces pleng. Tapi bagi Deng Xiao Ping tak perlu azimat yang mujarab. Dengan kerja super keras, cina kini telah membuktikan kepada dunia luar bahwa, cina patut diperhitungkan. Konon kabarnya Amerika Serikat dan Eropa ketakutan menghadapi kemajuan ekonomi cina.
Membangun bangsa memang butuh manusia yang cerdas, intelektual tinggi dan wawasan luas. Tapi itu tidak cukup. Butuh juga manusia yang trampil, cakap mengelola pekerjaan. Apabila perekonomian akan menjulang, dibutuhkan sarana yang memadai demi terealisirnya sirkulasi pembangunan ekonomi yang lancar. Salah satu sarana yang dibutuhkan adalah jalan raya, atau jalan yang layak digunakan. Dengan fasilitas ini, perekonomian akan menggeliat yang mampu menghubungkan satu daerah degan daerah lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *