Usia Pernikahan

20170330_084122

Dulu, pada saat pencoblosan, maksudunya pemilu tahun 80an, saya dan teman-teman lebih suka memilih bermain di sawah atau sungai. Saat itu sekolah diliburkan. Rasa senang pasti menyelimuti kami. Sawah dan sungi adalah tempat penyatuan kami. Suasana lebur jadi satu. Cuma senang dan senang. Tidak ada anak pegawai negeri dengan anak seorang pedagang. Tidak ada yang merasa kaya dan miskin. Semua bersama dan menyatu.
Saya dan teman-teman tentu belum boleh ikut berpartisipasi dengan ikut mencoblos. Karena belum genap berusia 17 tahun. Ada aturan, yang membolehkan seseorang berhak untuk memenuhi hak pilih setelah mencapai usia 17 tahun atau belum mencapai umur itu tetapi  sudah menikah. Ada temanku yg belum genap 17 tahun namun sudah menikah. Dia memperoleh hak istimewa tentunya, bagi kalangan teman-temannya.

Siapa sebenarnya penemu angka keramat 17 tahun. Karena kalau ditelusuri tidak ada dokumen yang tertulis angka 17 tahun. Di gedung bioskop misalnya. Saat ada pemutaran film khusus memang tertera angka 17 tahun ke atas. Namun siapa yang mau menyeleksi bahwa penonton telah mencapai usia itu. Toh tak ada petugas yang menyortir KTP. Kalau diukur tingga dan pendeknya badan tidak menjamin. Ataukah kesepakatan nasional saja bahwa di usia 17 tahun sudah layak dianggap dewasa untuk mengendalikan emosi dan nafsu.
Karena tidak ada aturan tertulis dan sudah menjadi konsensus, maka batas umur 17 tahun menjadi standar. Umtuk membuat SIM, surat ijin mengemudi juga di angka 17. Eh….jangan-jangan dikaitkan dengan tanggal 17 Agustus?¬† Sepertinya alasan ini mengada-ada.
Sekarang, saat dunia tidak ada batasnya, teknologi komunikasi semakin merambah disetiap segi kehidupan dan dimanfaatkan setiap lapis umur, ternyata ada satu sisi yaitu pendewasaan umur yang demikian cepat. Anak-anak yang semestinya belum masanya untuk mengetahui seluk beluk sex, ternyata mereka dapatkan informasi dengan amat mudahnya. Lebih memprihatinkan lagi, mereka hanya mengetahui kulitnya saja. Tanpa disertai dengan pengetahuan yang cukup tentang perilaku dan akibatnya.
Meski agak terlambat, namun pemerintah bertindak cepat. Berbagai penyuluhan dan informasi yang dipandang cukup memiliki potensi yang rawan, pemerintah meluncurkan program Pendewasaan Usia Pernikahan (PUP). Lewat kegiatan ini diharapkan akan menghapus stigma usia 17. Angka 17 yang sudah mendarah daging, diharapkan akan memudar dengan sendirinya, bila program PUP terus digulirkan tanpa lelah.
PUP inimerupakan bagian dari program Keluarga Berencana (KB), yang konon KB ini ditiru oleh China dan India. Menekan laju pertambahan penduduk adalah dalam rangka agar keluarga sejahtera. Tak didera dengan permasalahan ekonomi dan kesehatan. Program PUP akan memberikan dampak terhadap peningkatan umur kawin pertama yang pada gilirannya akan menurunkan angka Total Fertility Rate (TFR).
Kesadaran penduduk untuk meningkatkan kesejahteraan terlihat makin tinggi. Sudah jarang ditemui seorang anak akan menikah sebelum umur 20 tahun. Kecuali di daerah-daerah tertentu yang masih lekat dengan tradisi. Orang tua mereka masih enggan untuk melepas kebiasaan peninggalan nenekmoyang mereka, disamping juga latar belakang pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *