Olyq dan Olympicad Bersatulah

unnamed

Olympicad, mungkin dari sebagaian pembaca baru membaca. Mengapa bukan olympiade yang sudah tenar terutama di kalangan akademisi. Olympiade adalah ajang kompetisi untuk mengukur kecerdasan, terutama dalam bidang sains. Namun akhir-akhir ini merambah ke bidang yang lain. Seperti sejarah, budaya dan sosial lainnya. Bahkan keagamaan juga memakai olympiade. Lalu apa hubungannya dengan olympicad.

 Awalnya Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah atau majelis dikdasmen yang mengawalinya. Dikdasmen adalah organisasi pembantu yang ada dalam naungan Muhammadiyah. Sama kedudukannya dengan majelis Tabligh, Tarjih atau Kesehatan, hanya beda spesifikasi lahan garapan. Majelis Dikdasmen, sesuai namanya adalah yang menangani masalah pendidikan. Mulai dari Sekolah Dasar hingga Menengah. Perguruan tinggi ada dibawah Dikti. Sedangkan untuk Taman Kanak-kanak dikelola oleh ‘Aisyiyah.
Dikdasmen perlu membuat ajang kompetisi untuk Pelajar Muhammadiyah agar kelak mereka tidak canggung andai ia telah tamat sekolah. Di wilayah ini, peserta datang dari berbagai daerah, meskipun Pulau Jawa tetap masih mendominasi. Pelajar perlu mendapat asupan kompetisi untuk mengukur batas maksimal sebuah mata pelajaran atau ketrampilan yang dikuasai atau malah justru dikembangkan. Dikdasmen juga perlu memeperoleh data, sejauh mana tingkat pengetahuan dan ketrampilan seorang pelajar Muhammadiyah.
Sepengetahuan penulis, olympicad telah  diselenggarakan empat kali. Tetakhir dilaksanakan di Malang tahun 2014. Dari tahun  itu hingga kini belum terdengar gaungnya lagi. Kalau menurut maqomnya setiap 2 tahun sekali. Cabang yang dipertandingkan meliputi pengetahuan yang diwakili oleh Matematika, IPA dan Bahasa Inggris. Sedangkan ketrampilan menurunkan Tapak Suci, pembuatan film pendek dll. Guru dan Kepala sekolah juga ikut dipertandingkan lewat jalur guru berprestasi dan kepala sekolah berprestasi.
Di belahan lain, masih dalam lingkungan Muhammadiyah ada OLYQ. The Olympiad of Qur’an. Penyelenggaranyaadalah Jaringan Sekolah Muhammadiyah. Se Indonesia juga. Hanya macam yang diperlombakan berbeda. Olyq cenderung ke nuansa spritual seperti Mushabaqah Tilawatil Qur’an, Hifnil Qur’an sampai dengan adzan. Sedangkan ketrampilan lebih focus di robotic, roket, toys design, majalah, web  dll. Guru dan Kepala Sekolah juga mendapatkan tempat.
Olyq diselenggarakan oleh jaringan sekolah Muhammadiyah. Dari strukturnya memang tidak memiliki jalur yang resmi dengan Majelis Dikdamen khussnya. Semangat yang diimbamgi dengan semangat yang lain melahirkan sebuah ajang kompetisi antar siswa dan guru. Jaringan ini memang mengandalkan kuatnya komunikasi antar0 sekolah.
Ajang kompetisi ini telah dilaksanakan 2 kali, dan besok akhir April 2017 untuk ke-3 kalinya bertempat di Bandung. Dengan durasi setiap tahun sekali.
Olympicad dan Olyq lahir dalam rahim Muhammadiyah. Keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu Silaturrahmi dan menjelajah sampai sejauh mana pengetahuan dan ketrampilan dapat diukur. Keduanya juga memiliki audience yang sama yaitu pelajar Muhammadiyah. Dilihat dari durasi penyelenggaraannya tampak tidak sinkron, demikian pula materi yang lombakan. Apa salahnya bila kedua olimpiade ini dijadikan satu, dengan jarak interval waktu yang cukup memadai. Karena peserta berasal sari pelosok tanah air. Bukankah Muhammadiyah telah mendoktrin arti kolaborasi

2 comments

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *