Jejakku di Wonosobo (1)

koleksi pribadi

koleksi pribadi

Saya memanfaatkan liburan Isra’ Mi’raj tahun 1438 H ini pulang kampong halaman. Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo. Bertemu dengan orang tua, kerabat dan kawan lama. Dan pastinya kuliner yang hingga sekarang belum punah bahkan semakin dicari : sego megana, tempe kemul, dan soto khas wonosobo. Kali ini saya tidak mencicipi mie ongklok. Jajanan resmi Wonosobo yang sudah kondang kaloko.

Satu ketika saya sengaja menyusuri jalan dari arah Mall Rita ke selatan. Rita sekarang, dulunya adalah Bioskop Dieng Theater dan Terminal Bis antar kota. Saya pasti ingat, dulu bisnya pakai hidung merk Toyota, masih ada pintu belakang, dengan nama Toyo Gesang, artinya air yang mati. Saya sering naik Jurusan Wonosobo-Jogja langsung, untuk menengok Bu Lik yang dulu sekolah di Yogyakarta.

Setelah sampai Sambek saya belok ke kanan, melewati kantor PLN kemudian belok kearah kanan lagi bertemulah sebuah gedung yang sekarang dipakai untuk kepolisian. Dulu, gedung tersebut dipergunakan untuk bioskop namanya Sobo Theater. Saingan dengan Dieng Theater. Disinilah saya mengenal bintang film yang top saat itu. Wang Yu, pemain silat jempolan. Kalau tidak salah judulnya “Shaw Brother”. Nama lain yang dapat saya sebutkan : Lo Lieh, Ti Lung, David Chiang, Chen Kuang. (Saya harus buka google supaya tidak salah menuliskan). Jacky Chan belum muncul. Ia keluar belakangan. Tapi dari film laga china yang paling popular tetaplah Bruce Lee. Apalagi main di “Game Of Date”. Sampai sekarang pakian beliau, training kuning bergaris hitam masih digandrungi dan dijadikan identitas.

Barisan bintang film India harus menyebut nama Amitabh Bachchan. Ia adalah jagoan yang komplit. Bisa duel, menyanyi, bahkan menangis. Ada pula keluarga Kapoor. Ravi Kapoor atau Jeetendra, Prthviraj Kapoor, Surinder Kapoor. Inilah silsilah Kapoor yang hidupnya di Film. Semua anak keturunan hampir terlibat dalam Industri perfilman. Saya tahu yang namanya Hema Malini, tapi saat itu sudah mulai pudar. Mengapa film India digandrungi di Wonosobo, karena pedesaan di wilayah Wonosobo boleh dikatakan masyarakat santri. Tidak heran musik yang berbau India, Arab, apalagi dang dut sudah menjadi nafasnya.

Kalau Film barat banyak sekali yang saya kenal. Di Tahun 80an generasi music disko. Siapa yang tak kenal John Travolta bersama Olivia Newton John? Di masa muda saya dan tentu teman sebaya, pasti hafal film bergenre detektif James Bond 007. Masih banyak lagi deretan aktor dan aktris yang hingga kini masih dikenang, dan beberapa masih eksis dalam dunia film. Saya tidak perlu menyebutkan film Indonesia, karena saat itu didominasi bernuansa klenik. Siapa masinisnya kalau bukan Suzana.

Di Bioskop ini pula saya punya teman namya Bagus (sekarang entah dimana). Dia adalah anak seorang Polisi yang saat itu bertugas di Timor Timur. Saya sering berkunjung ke rumahnya dengan harapan, bisa masuk Bioskop tanpa bayar. Realisasinya memang demikian. Mulai dari kelas 2 SMP sampai kelas 3, saya berteman baik dengan dia.

Saya menyusuri jalan lagi kearah utara. Di samping kiri berjejer SMPN2 dan SMKN. SMPN2 saat ini dikenal sekolah yang kreatif dan menjadi favorit, pesaing ketat SMPN1. SMKN Wonosobo dulunya adalah ST (Sekolah Teknik). Siswanya putra semua. Konan kabarnya tidak ada guru perempuan. Jadi kalau boleh saya sebut sekolah cap kampak.

Kemudian di pojokan ada gereja Jawa, hingga saat ini masih kokoh berdiri. Tulisan “Akoe iki pepadanging jagad” masih tegak menempel di dinding atas pintu masuk. Tulisannya masih sama, warnanyapun masih sama. Sebagaimana biasa, bila ada gedung di pojokan perempatan, sebagai tanda untuk turun dari kendaraan angkutan umum.

Dari gereja belok ke kiri kira-kira 100 m, disitulah saya mengenal pertama kali sekolah di kota. Tepatnya di SMPN1 Wonosobo. Sekolah favorit katanya. Hanya 5 anak yang beruntung masuk ke sekolah itu dari kecamatan Mojotengah. Saya menyebut sedikit gegar budaya. Mengapa? Karena pakian harus seragam, bersepatu, buku harus lengkap baik catatan maupun cetakan, setiap ganti pelajaran ganti guru, bahasanya harus menyesuaikan bahasa kota yang berimbas pada pergaulan.

Sekolahku SMP saat kelas 1 sebenarnya terpisah dari gedung induk. Jaraknya kira-kira 1 km. Sehingga setiap hari senin, kami upacara di gedung induk baru kemudian jalan bersama ke gedung cabang yang ada di selatan. Olah ragapun demikian. Sehingga ada waktu yang sebenarnya tersita untuk pelajaran.

Di gedung selatan ini, kami berdampingan dengan SMAN1 Wonosobo. Hampir sebagian besar, siswa SMAN1 berasal dari SMPN1. Mungkin sudah ditakdirkan. Ada beberapa anak yang dari SMP lain baik negeri maupun swasta, tapi tidak banyak. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *