Argopeni, Cintaku Bersemi Lagi


Cukup beruntung bagiku mampu masuk di SMP Negeri 1 Wonosobo. Sebuah sekolah yang masuk katagori sekolah pilihan dan menjadi idaman bagi siswayang baru menamatkan di Sekolah Dasar. Untuk dapat masuk kesana diperlukan test, saat itu. Mungkin sekarang juga masih berlaku. Pihak sekolah tidak cukup yakin dengan nilai NEM yang digenggam sang calon siswa. Pertimbangannya sederhana. Kejujuran.

Sekolah tak cukup yakin tentang pelaksanaan Ujian Nasional yang dilksanakan dipelosok pedesaan. Meskipun yang mengawasi orang terpilih. Dan memang cukup adil, menurutku.

Tiga setengah tahun duduk di SMP Negeri 1 Wonosobo ternyata tidak mampu mendongkrak prestasiku saat harus bersaing masuk ke SMA Negeri 1 Wonosobo. Di sekolah ini juga termasuk pilihan. Dan namaku tak tertera di papan pengumuman. Kuulang beberapa kali, tidak juga tercetak. Pasrah. Itu sikap yang harus diterima meskipun hati tetep belum menerima.

Bersama dengan teman lain terpaksa harus mencari sekolah yang lain. Pilihanku tertambat di SMA Muhammadiyah Wonosobo yang kala itu masuk siang hari. Sebuah sekolah yang baru muncul. Belum ada kelas 3. Secara perhitungan berarti aku masuk tahun kedua.

Test gelombang pertama hanya diikuti oleh 7 calon siswa. Meski hanya segelintir tetap dilakukan test. 3 hari kemudian pengumuman muncul. Namaku terpaku paling atas. Meski rangkin satu namun belum mampu menghapus luka karena idaman ke SMAN 1 pudar.

Ternyata temanku di SMAM 1 Wonosobo cukup banyak. Ada dua kelas. Saya masuk yang kelas 1B. Penyesuaian lingkungan memang sulit. Dari kebiasaan masuk pagi tiba-tiba harus masuk siang. Otakpun sebenarnya otak sisa. Olah raga, bermain, bercengkerama dengan sungai serayu hilang. Menerima pelajaran sebagai gantinya.

Namun guruku orangnya hebat-hebat. Motivator yang sesungguhnya. Mereka tak henti-hentinya menyemangati. Tak jera untuk membangkitkan semangat sebagai pelajar. Bahwa belajar dimanapun sama belaka.

Waktu terus berjalan melingkar. Sore demi sore kukais dengan merentang kata demi kata dalam lembar buku pelajaran. Rumus demi rumus kutulis walaupun esok hari lebih banyak hilangnya. Memasuki semester kedua godaan datang. Jogja lebih baik. Tapi beranikah? Belum ada 1 tahun lulus dari SMP. Transportasi masih jarang, komunikasi jelas tidak punya. Kerabat apalagi.

Mendekati ulangan semester kedua mendekat, makin memicu adrenalinku untuk segera hengkang dari Argopeni, tempatku belajar sehari-hari. Sengaja niatku tak kusampaikan pada rekan-rekan. Aku harus bohong beberapa bulan buat sobat karibku.

Akhirnya hanya satu tahun belajar di SMAM 1 Wonosobo. Di Argopeni yang setiap sore kuakrabi. Entah mengapa setiap aku pulang ke rumah, yang tentu saja melewati Argopeni tak terbersit sedikitpun kenangan. Hanya akhir-akhir ini saja seakan merasa memiliki.

Kemajuan komunikasilah yang membangkitkan riak kenangan. Jiwa kepemilikan tiba-tiba muncul. Penyatuan hati saat masih sekolah seperti keluar dari lorong gua yang gelap. Tiba-tiba ingin bersama lagi. Buih-buah penyesalan seperti rampak kendang yang bernyanyi di sudut hati. Betapa bahagianya manusia saat diberi keleluasaan untuk berkumpul kembali keluarga kecilku. Kawan… aku ingin selalu bersamamu.

Kalibeber, 21 Mei 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *