Merananya Masjid Fadhlurrahman UMS

  1. PHOTO_20170604_153028

Siang itu sebenarnya saya sudah sholat dhuhur. Jadi tak perlu repot naik ke atas menuju Masjid Fadhlurrahman di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Biasanya saat saya menunggu, saya lebih senang menunggu di Masjid. Karena masjid dimanapun suasananya tenang dan sedikit lebih sejuk. sehingga  saya memutuskan untuk bercengkerama di teras.

Tapi sebenarnya ada yang mengusik di sudut mataku waktu memasuki UMS yang dulu megah. Memang disamping kiri kanan gedung UMS lama, telah berdiri gedung yang cukup bagus. Sebut saja Rumah Sakit Islam Surakarta. Di seberang jalan juga terlihat beberapa gedung yang cukup menonjol.

Apa yang membuatku cukup terusik? Tak lain adalah halaman UMS. Hamparan taman yang cukup sejuk tidak diimbangi dengan kebersihannya. Daun kering yang runtuh dari ranting dibiarkan tergolek menutupi taman. Angin menyapu dedaunan dan sampah kertas dan plastik membuat suasana tidak asri. Tempat duduk yang tersedia berdampingan dengan pohon terlihat kosong. Orang yang mau duduk jadi enggan.

Makin klop, andai mata memandang tembok yang sudah kusam dimakan usia. Dibeberapa bagian dinding, cat sudah mulai mengelupas. Pintu dan jendela dari kayu tak mampu menyangga harmoni bangunan kampus. Sebab kayupun mengalami nasib serupa. Saya lebih focus ke suasana menunggu sambil sesekali baca karena rasa kantuk ternyata lebih dominan.

Saat adzan asar berkumandang, kesegerakan untuk menuju tempat wudhu. Basuhan air yang mengguyur wajah mampu mengusir rasa kantukku. Beberapa memori ingatan segera pulih. Tapi apa yang kutemui?

Lantai tempat wudhu begitu kotor. Beberapa kran tak berfungsi. Terlihat juga kran yang harus diikat dengan karet agar air tak mengalir terus menurus, mungkin. Rak tempat sepatu dan sandal merapuh.

Kusegerakan masuk Masjid lewat tangga yang cukup terjal. Lagi-lagi kutemukan beberapa keset pengering kaki dari basah terkena air, terlihat sudah rusak. Beberapa berlobang tak layak untuk dipakai lagi dan tak tertata rapi seperti barang buangan.

Sebelum memasuki masjid, saya memprediksi keadaannya. Dugaanku tepat. Ada beberapa bagian dari masjid yang teronggak tanpa perawatan. Penyekat jamaah telah kusam. Cat dinding yang membentuk warna blur. Lantai sedikit berdebu. Di ruang imam terlihat seperti gudang. Barang apapun masuk disitu. Intinya masjid jauh dari kesan sebagai rumah peribadatan muslim.

Di bulan suci Ramadhan ini mestinya, masjid kampus terlihat layaknya rumah ibadah untuk mengisi iman dan ilmu. Nuansa spiritualitasnya tidak ada. Semangat mengejar keduniaanpun alpa. Tak lebih seperti sebuah ruangan yang lebar tapi kosong.

Minimal banget ada sebuah papan informasi yang terkait dengan kegiatan ramadhan. Misalnya daftar kuliah subuh. Daftar penceramah bakda sholat tarawih. Pengumuman kajian keislaman dan sosial politik. Gema ramadhan jafi terasa. Tidak hambar.

Akhirnya, kampus yang pernah saya datangi saat lulus SMA dan ada niatan juga untuk masuk ke salah satu fakultasnya menjadi rasa kecewa. Bagaimana mungkin UMS yang sudah terkenal itu, membenahi masjid saja tidak bisa.

PHOTO_20170604_152918

PHOTO_20170604_152949

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *