Mengembangkan Jaringan Alumni

IMG-20170524-WA0142

Saya mulai mengajar di SMP Muhammadiyah 4 Yogyakarta sejak tahun 1991. Dari tahun itu hingga kini masih krasan di tempat yang sama. Karena memang belum ada yang memindahkan. Lokasinya saat itu masih di jalan Sultan Agung no. 14, tepat di depan gedung bioskop Permata yang sekarang sudah lenyap.

Sekolah sudah masuk pagi hari. Konon sebelumnya masuknya siang hari karena memang belum memiliki gedung. Jumlah kelas seluruhnya ada 9 kelas dan berada di kelas bekas SMP Muhammadiyah 2 (putri). Gedung tersebut masih satu lokasi dengan kantor Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta. Termasuk tipe bangunan lama. Konon kabarnya, saat masih di jaman kompeni, salah satu ruangannya dipakai untuk kamar mayat londo yang meninggal.

Belum lama ini, saya dibantu dengan beberapa mantan murid yang sekarang menjadi sahabat, berhasil mengumpulkan beberapa alumni. Mulai dari tahun 1986 hingga 2014 dengan beberapa tahun yang bolong. Luput dari jangkauan. Komunikasi putus. Mengapa harus saya kumpulkan, jawabnya sangat mudah, agar setiap alumni yang lahir dari rahim SMP Moepat tidak putus. Semuanya nyambung meskipun dalam dunia maya.

Tidak mudah menyamakan persepsi dari mata rantai lebih dari seperempat abad. Masa sekolah mereka sungguh berbeda. Ada jaman ketika telepon masih jarang, pulang pergi sekolah naik sepeda atau jalan kaki. Ada era saat hand phone merajalela. Sms senjadi santapan tiap hari. Transportasi kendaraan amat mudah. Ada pula yang hidup di kala musim gadget tumbuh pesat. Dunia seakan menyempit. Fungsi kaki menjadi berkurang. Sebaliknya jemarinya semakin lincah memanfaatkan hasil teknologi komunikasi.

Sekarang ini memang sedang gandrung kepada hal-hal yang bersifat memori atau nostalgia. Mungkin ada saat orang merasa jenuh menikmati derasnya mobilitas sosial yang menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga kenangan masa lalu terlalu indah untuk dilupakan. Makanya reuni menjadi salah satu pelipur rindu dari dahaga kejenuhan.

Apakah reuni, jumpa darat atau kopi darat hanya sebatas kepada pada pertemuan biasa setelah lama tak bersua? Apakah hanya sekedar membangkitkan ulang kenangan? Memutar kembali senandung keculunan, kisah kepiluan? Apabila jawabannya iya, berarti sia-sia. Tidak mampu manangkap momentum. Tidak dapat meraih peluang.

Andai saja satu angkatan dapat menjaring seperempat dari jumlah semua lulusan di tahun yang sama, kemudian kalikan dengan 25, sudah berapa ratus teman yang bisa dirangkul. Jangan lupa jaringan itu adalah aktif. Artinya setiap kawan bisa dihubungi sewaktu-waktu. Dari komunitas aktif seperti ini, andai dibuat jaringan usaha, berapa ratus ribu uang yang dapat diputar. Itu lingkaran satu almamater. Tentu seorang usahawan/usahawati memiliki beberapa lingkaran. Bukankah pundi-pundi akan semakin gemuk?

Bagaimana bentuknya? Saya percaya jikalau bisnisman memiliki seribu akal. Apalagi ditunjang dengan teknologi komunikasi. Jarak boleh jauh. Orang boleh tak bersua. Tapi peningkatan pendapatan harus dipenuhi. Hajat hidup tak boleh berkurang. Andai rekening meningkat, peluang untuk berinfaq semakin besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *