Al Azhar dan Cordova

sumber gambar : dibalikisklam.com

sumber gambar : dibalikisklam.com

Harus diakui sejarah membuktikan bahwa kekuasaan Islam terbagi menjadi 4 bagian, sepeninggal Rasulullah Muhammad saw. Pertama adalah zaman Khulafaur Rasyidin atau Khalifah Rasyidah. Kedua, Bani Umayyah, ketiga Bani Abbas dan terakhir Bani Fatimiah. Padahal Rasul tidak pernah menunjuk seseorang untuk mengganti kedudukannya sebagai kepala pemerintahan. Hanya dengan musyawarah, terpilih Abu Bakar Ash Shidiq yang hanya memerintah selama 2 tahun. Disusul kemudian Umar Bin Khattab (10 tahun), dilanjutkan Usman Bin Affan (11 tahun) dan terakhir Ali Bin Abi Thalib (6 tahun).

Bibit perpecahan terjadi pada masa pemerintahan Usman. Karena beliau diangkat pada saat usia sudah menjelang 70 tahun. Secara fisik sudah mengalami gradasi penurunan. Secara kekuasaan juga sudah tidak sesigap pada usia muda. Ali bin Abi Thalib yang meneruskan tampuk kekuasaannya seperti mendapat getah. Pemerintahan penuh dengan intrik. Masing-masing kelompok merasa berhak untuk duduk di singgasana. Maka tidak heran jika di akhir masa khulafaur rasyidin ini, terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu : Mu’awiyah, Syi’ah dan Khawari (keluar dari barisan Ali).

Setelah berakhirnya masa khulafaur rasyidin, maka sebenarnya sistem pemerintahan kembali kepada bentuk kekhalifahan. Bukan berarti rakyat tidak menentang bentuk dinasti seperti ini. Tapi karena orang yang dekat dengan khalifah, maka dengan kekuasaannya mereka membentuk sistem pemerintahan dinasti. Turun temurun. Muncullah Bani Umayyah, Bani Abbasiah dan Bani Fatimiah. Ketiga kelompok tersebut memiliki daerah kekuasaanya dan mempengaruhi serta mengindoktrinasi rakyat agar tunduk kepada khalifah. Dalam sejarah tercatat bahwa ketiga khalifah tersebut memang meninggalkan jejak Islam yang cukup cemerlang. Bermanfaat bukan hanya bagi orang Islam sendiri, tapi untuk peradaban di luar Islam.

Al-Azhar

Orang yang berjasa besar terhadap berdirinya Al-Azhar adalah al-Muizz li Dinillah Abu Tamim Muid (Raja keempat dari Dinasti Fatimiah). Orang kepercayaan bani Fatimiah (Syiah). Ia adalah pemimpin besar dengan ide dan ambisi yang besar. Ia juga dikenal sebagai cendekiawan dan politisi yang ulung, yang mampu membangun kepercayaan di mata publik di kawasan Afrika Utara. Ia menaklukkan Mesir yang sebelumnya dikuasai oleh Dinasti Ikhshidi yang berkiblat dengan Turki. Tahun 969 M, Mesir jatuh ke tangan Bani Fatimiah, yang sebelumnya memang sudah sejak lama diinginkan. Terbukti bahwa penaklukan Mesir beberapa kali mengalami kegagalan, sejak tahun 913 M.

Apa yang Istimewa dari Mesir? Selain Pyramid dan Spinx? Bagi pecandu pendidikan tentu saja adalah Universitas Al-Azhar. Inilah universitas yang pertama kali berdiri. Sebagimana Rasulullah, yang pertama kali didirikan setelah usai menaklukkan suatu daerah adalah membangun masjid. Di Mesir, ada dua buah masjid yang sangat terkenal sebelum Al-Azhar, yaitu Masjid Amr bin Ash dan Masjid Ibnu Tulun. Al- Muizz berinisiatif untuk membangun sebuah masjid yang anggun bernama Al-Azhar yang berarti tercerahkan, merujuk kepada Fatimah al-Zahra, cucu baginda Rasulullah SAW.

Dalam perjalanan, Al-Azhar bukan hanya dimanfaatkan untuk kegiatan ritual semata. Masjid juga difungsikan sebagai pusat pendidikan. Bahkan, di bidang pendidikan ini telah dilakukan perubahan yang mendasar dengan adanya kurikulum, ketercapaian materi. Sehingga lulusan dari Masjid Al-Azhar dipercaya memiliki ilmu yang mumpuni terutama Fiqh.

Ada sebuah institusi yang didirikan setelah Al-Azhar, yaitu Dar al-Hikmah. Yang membedakan keduanya, adalah : kalau al-Azhar lebih konsentrasi di bidang keagamaan, sementara Dar al-Hikmah merupakan institusi yang focus pada ilmu pengetahuan umum.

Perkembangan selanjutnya, adalah pemisahan fungsi masjid dengan ruang belajar. Pemerintahan mesir, sejak lepas dari Dinasti Fatimiah yang bermazhab syiah, jatuh ke Ahlus Sunnah wal Jamaah, tetap melanjutkan kebijakannya mengembangkan pendidikan dengan membangun gedung khusus belajar. Cikal bakal gedung inilah yang sekarang menjadi Universitas al-Azhar.

Mendengar kata al-Azhar sama halnya dengan sumber keilmuan khususnya agama Islam. Al-Azhar menjadi salah satu corong peadaban dunia. Dari perut al-Azhar telah lahir tokoh-tokoh pendidikan sekaligus ulama antara lain, pada masa awal, antara lain : Ibnu Zulaq (sejarawan), Abdul Ghani (ilmu al Qur’an), Hasan bin Haytsam (filsuf), Ibnu Yunus (stronomi), Jaufi (ahli bahasa Arab). Beberapa ulama yang cukup populer di tanah air diantaranya, Mahmud Syaltut, Mustafa al-Maraghi (ahli Tafsir al Qur’an), Muhammad tantawi dll. Sedangkan ulama lulusan Indonesia yang paling menonjol adalah Prof. Dr. Quraish Shihab.

Cordova

Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-Walid (705 – 715), salah satu seorang khalifat dari Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Dalam proses penaklukan spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dikatakan paling berjasa memimpin pasukannya. Mereka adalah : Tharif bin Malik, Thariq ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair. Dari ketiganya yang paling dikenal dalam khasanah sejarah Islam adalah Thariq ibn Ziyad.

Beliau mendarat di Gibraltar (Jabal Thariq) sebagai pintu masuk yang paling efektif dan strategis. Spanyol jatuh karena buruknya kondisi sosial , ekonomi dan keagamaan pada masa pemerintahan Raja Roderick, Raja Goth terakhir yang dikalahkan Islam.

Perkembangan Islam di Spanyol bisa dibagi menjadi 6 bagian. Dari enam bagian tersebut ada dua khalifah yang meletakkan dasar pemerintahan, sehingga spanyol mencapai puncak kejayaan. Pertama adalah Abd Al Rahman Al Dakhil, yang mendirikan masjid di Cordova, dan sekolah-sekolah di kota-kota besar. Pemerintahan ini masuk dalam tahap yang kedua (755 – 912 M). Kedua adalah pada masa pemerintahan Abd Al Rahman III yang bergelar An-Nasir. Periode ini, umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan, menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad.

Nashir mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaannya memiliki koleksi ratusan ribu buku. Masyarakat dapat menikmati kesejahteraan dan kemakmuran, karena Spanyol adalah negeri yang subur. Kesburuan ini mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi yang pada gilirannya banyak menghasilkan pemikir. Minat terhadap filsafat dan Ilmu Pengetahuan mulai dikembangkan. Tokoh cendekiawan pada masa itu antara lain : Abu Bakr Muhammad ibn Al-Sayigh yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Demikian pula ada Abu Bakr ibn Thufail yang banyak menulis tentang kedokteran, astronomi dan filsafat.

Di bidang sain tidak ketinggalan pula Ahmad ibn Ibas ahli obat-obatan. Ibn Jubair dari Valencia adalah ahli sejarah. Ibn Batuthah dari Tangier adalah pelaut tangguh. Ibn Khaldun adalah perumus filsafat sejarah.

Kalau dilihat dari waktu, sesungguhnya Al-Azhar dan Cordova hampir bersamaan. Bani Fatimiah dan Bani Umayyah memiliki semangat yang sama untuk memajukan pendidikan, meskipun secara politik saling bertentangan. Ghirah terhadap kemajuan umat tidak perlu diragukan lagi. Dengan semangat science for science mereka melakukan upaya pengembangan khazanah keilmuan yang telah dilakukan oleh pemikir Yunani Kuno dengan tanpa melepas pada bingkai religius islami. Semangat inilah yang mereka lalukan dalam melakukan ijtihan keilmuan. Dari akumulasi dan hubungan yang harmonis inilah kemudian melahirkan ilmu pengetahuan islami yang sangat bermanfaat bagi perkembangan kebudayaan manusia selanjutnya.

 

Sumber bacaan :

  1. Sejarah Peradaban Islam karya Dr. Badri Yatim, M.A.
  2. Al-Azhar karya Zuhairi Misrawi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *