Pudarnya Karakter Bangsa

sumber gambar : bitalyfiz.blogspot.com

sumber gambar : bitalyfiz.blogspot.com

Disinyalir perjalanan bangsa Indonesia sedang menuju jurang kenistaan. Pondasi dasar dasar berbangsa dan bernegara tidak lagi menjadi pedoman utama. Pancasila dan Undang Undang Dasar tahun 1945, hanya dibaca secara formal pada waktu seremonial. Upacara bendera, rapat kerja, dan pertemuan formal.

Bencana alam, menjadi berita sehari-hari. Anehnya, menurut beberapa ahli, bencana alam disebabkan karena ulah manusia sendiri. Tawuran antar sekolah, antar kampung, antar suku. Lebih mengenaskan lagi, pertentangan antar lembaga Negara. Saling lempar tugas, antara atasan dan bawahan.

Ada 8 tanda-tanda sebuah masyarakat yang akan mengalami kebangkrutan.

Meningkatnya kekerasan

Semakin meningkatnya kekerasan di lingkungan masyarakat. Bentrok antar kampung atau antar suku, menjadi hiasan berita utama. Grafik kekerasan yang sempat dipantau oleh lembaga keamanan menunjukkan peningkatan.

Penggunaan bahasa yang tidak baik

Penulisan status di facebook setiap hari semakin beragam. Tapi tidak memiliki nilai yang dapat menggugah jiwa. Galau merupakan santapan tiap detik. Narsis mendominasi screen layar. Di lingkungan kerja, memanggil rekan kerja disamakan dengan waktu bermain. Ini akan berakibat penurunan martabat seseorang.

Pengaruh peer group (gang) dalam tindak kekerasan

Dahulu, gang motor hanya di kota tertentu. Terutama kota besar. Sekarang gang motor telah merata disetiap sudut kota. Dahulu, perang hanya terjadi antar kelompok gang. Biasanya tempatnya dipilih yang sepi, jauh dari keramaian. Sekarang disetiap tempat bisa terjadi kekerasan. Korbannya bukan hanya anggota gang, tapi masyarakat umum.

Meningkatnya perilaku merusak diri

Makanan dan minuman yang merusak kondisi tubuh bukan hanya minuman keras dan narkoba. Kolesterol, junk food, makan yang tidak teratur juga bisa merusak tubuh. Kerusakan memang tidak saja menyerang pada orang pengguna miras dan narkoba. Menu makananpun bisa merusak.

Karena pekerjaan semakin meningkat, sehingga penggunaan waktu dihabiskan hanya untuk mengejar target pekerjaan. Kegiatan olah raga rutin, menyalurkan hobi dan mendalami seni budaya semakin jarang dilakukan.

Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk.

Moral menjadi barang mewah, yang setiap orang tidak lagi mampu menggapai. Namun degradasi moral bagai air bah yang menyusup ke relung kehidupan. Kitab suci sebagai standard an sekaligus sumber ajaran moral semakin dijauhi. Justru yang menjadi nyanyian wajib setiap saat adalah ajaran yang menjurus pada kerusakan moral.

Menurunnya etos kerja.

Sertifikasi guru dimaksudkan agar meningkat kinerjanya bagi seorang guru. Mengembangkan wawasan, meningkatkan profesinya, mendalami ranah paedagogik. Membimbing dan mengarahkan anak didik mestinya semakin intensif. Peningkatan akademik bukan satu-satunya tujuan pendidikan. Menjadikan siswa menjadi manusia seutuhnya itulah tujuan utama. Sehingga dengan adanya sertifikasi etos kerja menjadi meningkat.

Semakin rendahnya rasa hormat kepada orangtua dan guru

Bukan salah anak bila berani dengan orang tua. Bukan salah siswa bila menentang aturan sekolah. Karena orang tua, karakternya semakin luntur. Kepribadian guru tidak lagi menjadi panutan siswa.

Adanya rasa saling curiga dan kebencian antar sesama.

Apakah Anda merasa kalau sedang bekerja dengan kelompok dicurigai oleh orang lain? Apakah Anda merasa kalau sedang dipanggil atasan membuat rekan sekerja cemburu? Tidak salah. Sementara ini ada anggapan seperti itu. Dipanggil atasan, membuat team work diibaratkan mengerjakan proyek yang berujung pada finansial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *