Menjadi Guru di Era Digital

Hingga hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), persoalan bolehkah seorang siswa membawa gadget ke sekolah masih bertabur pro dan kontra. Tidak usainya problem peralatan digital karena disatu sisi, gadget hanya dipandang sebagai benda belaka. HP dan sejenisnya hanya sebagai alat bantu. Di pihak lain, ada sebagian yang masih apriori terhadap alat canggih ciptaan manusia itu. Dalam benaknya, kelompok ini masih mengklaim bahwa ilmu yang diperoleh masih layak dipakai, untuk tidak mengatakan yang terbaik.

Perkembangan komunikasi yang semakin melesat ini menimbulkan gejolak sosial yang berdampak pada kerenggangan hubungan antar manusia. Pola interaksi dari face to face menuju social private. Manusia semakin malas  untuk berjalan kaki karena diberi kemudahan dengan teknologi transportasi. Manusia semakin enggan untuk saling bersilaturahmi karena ada sarana komunikasi yang semakin mudah. Itulah perubahan.
Setiap perubahan meskipun perubahan yang lebih baik, pasti ada ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan itulah yang harus diadaptasi menjadi kenyamanan. Manusia yang harus menyesuaikan diri. Faktor Insanlah yang harus mampu mengelolanya.
Di sekolah, guru memegang peranan yang sangat penting sebagai agen perubahan. Karena seorang guru, meskipun memiliki predikat katalisator, tapi bukan perantara yang bebas nilai. Guru memerankan dirinya sebagai filter nilai. Ada katakter yang harus dilekatkan seiring dengan laju teknologi. Sehingga perubahan bukan hanya sekedar berganti. Namun harus diwarnai.
Paling tidak ada 4 (empat) fungsi yang harus dimiliki oleh seorang guru. Pertama, berpikir kritis dan analitis. Modern tidak berhenti. Modern adalah dinamis. Setiap menit modern selalu berganti. Di dalam teknologi modern terkandung ilmu yang menyertainya. Tidak mungkin teknologi hasil sulapan, seketika berwujud.
Karena modern lahir dari sebuah ilmu, maka menjadi wajib untuk dipelajari. Untuk mempelajarinya perlu perilaku berpikir kritis dan analitis. Ciri khas manusia modern tidak bisa menerima begitu saja. Ada kegiatan menganalisa secara rinci. Ada aktifitas uji coba, mempelajari proses sampai pada menarik kesimpulan.
Kedua, kreatif dan inovatif. Karena manusia berkembang semakin banyak, maka muncul sekelompok manusia yang memiliki profesi yang sama atau paling tidak mirip. Orang yang trampil dalam sebuah bidang semakin banyak. Sedangkan kebutuhan untuk memanfaatkan manusia tersebut semakin menyempit karena kualifikasi profesi. Muncullah persaingan. Dalam dunia kompetisi ini dibutuhkan orang yang kreatif dan inovatif dalam menyongsong masa depan.
Ketiga, komunikatif. Untuk bisa diakui keberadaannya, seseorang harus terlibat interaksi dengan orang lain. Saling sapa terhadap sesama harus menjadi kebutuhan. Saling berkomunikasi denganmedia apapun harus dilakukan seperti orang bernapas. Andai guru tidak.menguasai komunikasi yang sedang  ia geluti, maka akan ditinggalkan jaman.
Keempat, kolaboratif.  Oleh karena persiangan semakin ketat dan seseorang semakin trampil dalam bidang tertentu, maka tidak ada pilihan lain untuk kolaborasi. Kerjasama antar guru dalam sekolah ataupun di luar menjadi pilihan utama. Tak ada yang lain. Kegiatan kolaborasi berarti menempatkan dirinya sejajar dengan yang lain. Sama rata. Kerja bareng untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kerjasama untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Oleh karenanya, membentuk sebuah tim adalah jawaban yang tepat. Tim akan menunaikan semua target yang telah dipasang jika dan hanya jika melakukan kolaborasi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *