Buku Murah tapi Tidak Murahan

sumber gambar : rifdoisme

sumber gambar : rifdoisme

Beruntunglah saya mendapatkan buku “Kuntowijoyo : Karya dan Dunianya” yang ditulis oleh Wan Anwar. Buku ini saya peroleh dalam sebuah rak obral disebuah toko buku. Dengan harga sepuluh ribu, tapi yang saya dapatkan sebuah tabir yang terbuka, yang selama ini hanya mengendap di angan-anganku. Penulis yang juga seorang sastrawan membongkar isi buku dengan cara melakukan studi referensi. Jadilah saya baru tahu, isi buku-buku Kuntowijoyo (terutama novelnya) yang selama ini hanya sebatas membaca saja.

Seperti sudah menjadi sunatullah, bahwa karya sastra dilahirkan untuk dipuja dan cerca. Pada novel “Khotbah di Atas Bukit”, saya membaca dari awal hingga usai, namun yang saya dapatkan adalah bagaimana tokoh utama diperankan oleh Barman yang pada akhirnya setelah pensiun, ia hendak menemukan jati dirinya dengan cara mengasingkan diri ke sebuah bukit.

Bagi saya, membayangkan seseorang (Barman) hidup di sebuah perbukitan tidaklah terlalu sulit untuk membayangkan. Masa kecilku yang dihabiskan di lereng sebuah gunung dapat menangkap ungkapan satra tentang bukit lengkap dengan bau tanah, awan dan aliran sungai. Barman tidak salah bila menghabiskan sisa waktu bermukin di bukit, setelah separo umur hidupnya telah dihabiskan di lingkungan perkotaan yang serba mekanis dan tentu saja hedonis.

Namun dengan membaca buku kritik karya sastra Kuntowijoyo, saya harus mengembalikan lagi imajinasi yang selama ini kugenggam. Bukit yang selama ini hanya berupa gundukan tanah, ternyata perlambang filosofi. Popi, seorang perempuan yang menemani Barman, juga merupakan perlambang kelengkapan hidup. Demikian juga Humam (sahabat barunya di area perbukitan) hanya sosok simbol, dalam mengarungi langkah kehidupan.

Intinya saya mesti membaca kembali novel itu untuk menemukan makna karya sastra.

Pada novel : Pasar, Wasripin dan Satinah, pada mulanya saya menemukan garis merah dari sebuah novel yang berlatar belakang kehidupan orang jawa. Bagi saya, novel-novel itu bercerita tentang kehidupan yang biasa saya temui sehari-hari. Namun setelah membaca kritik sastra novel tersebut, pemahaman saya meleset cukup jauh.

Pasar, sejatinya merupakan panggung transformasi budaya. Siapapun akan mengalami transisi zaman. Paijo yang berperan sebagai pembantu pak Mantri Pasar, ternyata pada akhirnya menjadi sentral agen perubahan. Pemahamanku pada awalnya, Paijo merupakan tokoh yang kocak. Ia hanya sebagai  seorang kuli, kalau disuruh apapun tunduk pada Pak Mantri, senang membantu Siti Zaitun, bahkan bersahabat dengan Kasan Ngali yang menjadi seteru Pak Mantri.

Pada novel “Mantra Pejinak Ular”, bercerita tentang Abu Kasan Sapari tokoh utama dalam agen perubahan. Sejak mula saya tidak terlalu sulit memahami alur cerita mulai dari Abu Kasan Sapari kuliah hingga menjadi pegawai kecamatan. Hanya pada lembar-lembar tertentu yang muatan karya sastranya cukup kental, saya belum paham. Barulah setelah membaca bukunya Wan Anwar, saya baru tahu dibalik seekor ular yang dimiliki Abu Kasan Sapari. Muatan filosofi jawanya cukup kental.

Selain novel saya juga membaca cerpen, baik yang lepas maupun yang telah dibukukan (“Hampir Sebuah Subversi”). Terus terang, saya masih belum memahami kumpulan puisi yang tergabung dalam “Makrifat Daun, Daun Makrifat”. Mungkin persepsi saya terhadap puisi, sampai saat ini belum bisa menemukan inti penulisan puisi. Adapun buku selain karya sastra dari Kuntowijoyo, bagi saya mudah untuk memahami.  Buku “Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi” , “Radikalisasi Petani” dan tulisan yang tersebar di surat kabar ataupun majalah/jurnal yang kutemukan adalah pencerahan, atau pembentukan sudut baru paradigma saya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *