Etika Berorganisasi di ERCI

ertiga2

Berorganisasi sejatinya belajar memahami, belajar untuk menjadi dewasa. Tidak ada kepuasan yang langgeng dari sebuah paguyuban bersama. Adanya cuma kepuasan sesaat. Karena manusia tidak akan pernah merasa puas. Kepuasan hanya bisa diperoleh manakala tujuan seketika terpenuhi. Detik berikutnya, orang akan mencari yang lebih tinggi. Sayangnya manusia lupa bahwa untuk mencapai tujuan, dia perlu orang lain, diperlukan kerjasama untuk memperoleh keinginan. Itulah hakekat belajar memahami karakter orang lain, belajar lebih dewasa untuk memahami dirinya sendiri.

Kerja bareng untuk memperoleh tujuan bersama diperlukan tata aturan yang telah disepakati bersama, agar setiap usaha menghasilkan kepuasan bersama. Tata aturan, tertib kolektif, atau kode etik dalam berorganisasi sering dikenal dengan nama etika. Aturan itulah yang mengikat agar setiap anggota tidak menuruti kehendaknya sendiri. Menjaga ketertiban bersama itulah yang menjamin kelanggengan sebuah organisasi.
Biasanya etika menjelma dalam bentuk tata tertib atau yang lebih mengikat dengan kode etik. Norma berperilaku atau kode etik haruslah menjadi pedoman praktek aktual setiap aktivis. Etika ini menjadi milik bersama, dirawat bersama.  Kode etik menjadi landasan dalam etika berorganisasi. Di lembaga-lembaga yang survive keorganisasiannya, etika adalah sebuah nyawa. Tanpa etika, organisasi seperti kumpulan preman yang memiliki kehendak sendiri-sendiri. Organisasi tanpa aturan. Siapa kuat, dia akan menang dan mengatur sesuai dengan caranya sendiri.

Erci yang mengklaim memiliki anggota mencapai 3.000 an, sepantasnya harus memiliki kode etik. Dengan aturan yang mengikat (kode etik), setiap lapis pengurus tidak akan merasa ragu untuk menindak manakala ada anggota yang melanggar. Aturan mainnya jelas. Penindakan ini harus dilakukan karena sebenarnya pengurus sedang merawat organisasi. Pilar-pilar organisasi harus senantiasa dijaga bila erci ingin menjadi sebuah kelompok pecinta otomotif yang disegani.

Pada prakteknya harus melalui pendekatan kekerabatan, kekeluargaan. Menjalin hubungan sesama anggota erci harus diutamakan. Namun kepentingan organisasi juga ditegakkan. Bila perilaku demikian bisa dilaksanakan sesungguhnya pengurus telah berbuat adil. Untuk dapat berbuat adil pengurus melakukan kewenangan yang dimiliki dengan cara menjalankan amanat erci dengan tindakan-tindakan yang telah disepakati.

Penulis berharap, munas ke-3 erci akan melahirkan aturan yang tegas dan mengikat semacam kode etik. Paling tidak, kode etik ini disosialisasikan dalam jangka waktu sekali kepengurusan. Region dan chapter melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan aturan ini. Sebab penulis yakin, banyak dijumpai kasus-kasus yang melemahkan erci. Bila munas belum mampu mewujudkan, diharapkan  ada beberapa chapter yang dapat merealisasikan aturan semacam kode etik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *