Curhatan Guru TIK

Saya ini bukan guru TIK. Saya guru matematika. Saya punya banyak teman guru TIK. Bahkan sebelum TIK besar seperti sekarang ini. Saat itu masih jamannya pentium 4, atau bahkan sebelumnya. Saya sudah berkumpul dengan mereka hanya karena saya senang bekerja dan bermain dengan komputer. Hingga kini saya sudah terdampar di grup guru TIK nasional.
TIK saat itu hanya sebagai pembantu untuk melaksanakan pembelajaran di sekolah. Lebih banyak berfungsi sebagai tambahan beban administrasi. Komputer masih langka. Barang itu masih dianggap mahal. Apalagi tenaga yang mengoperasikan. Hampir semua yang menjalankan komputer adalah otodidak. Belajar sendiri tanpa ilmu yang resmi. Disitulah saya belajar bersama dengan orang-orang penggemar komputer.

Waktu berjalan, harga komputer mengalami perubahan. Komputer milik pribadi yang dipajang dirumahpun menjamur. Hingga akhirnya pemerintah membuka jurusan baru di Perguruan Tinggi dengan nama Teknologi Informasi. Mahasiswa yang mengambil jurusan ini diharapkan menjadi pengajar atau tutor disemua lembaga, baik pendidikan maupun non pendidikan. Antusias masyarakat sangat tinggi. Jurusan TI menjadi salah satu pilihan yang banyak diminati. Booming tenaga TI tak terbendung.
Perubahan jamanpun bergulir. Komputer jenis desktop mendapat pesaing baru dengan nama komputer jinjing. Komputer jenis ini meroket, karena kepraktisannya. Siapapun bisa membawa kemanapun. Kecil tapi berdaya guna. Namun modern itu tak kenal waktu lama. Lap top ataupun netbook terdesak dengan kehadiran hand phone berbasis android. Komputer sudah mulai ditinggal. Beralih ke mesin canggih nan praktis.
Karena dianggap usang, sehingga pemerintah menganggap bahwa pendidikan TI sudah masuk ke semua pelajaran. TI tidak berdiri sendiri. Semua guru harus menguasai TI. Apakah benar seperti itu? Berikut ini curhatan salah satu rekan saya yang kebetulan seorang guru TIK. Ia mempersoalkan mengapa TIK tidak masuk dalam struktur kurikulum 2013. Andai TIK tidak Ada dalam struktur kurikulum, maka taruhannya :
1. Siswa tidak akan mampu menguasai dasar dasar TIK dgn baik bahkan cenderung Gaptek dalam menguasai TIK secara keilmuan. Sebuah ilmu pasti punya dasar-dasar yang harus dikuasai oleh ilmuwan. Untuk bisa mengembangkan, dasar keilmuan harus kuat. Karena tidak mungkin, untuk mendirikan sebuah gedung yang menjulang keatas, pondasinya hanya sekedar beberapa meter saja. Demikian pula adonan untuk membuat pondasi hanya dari bahan biasa saja.
2. Guru TIK secara psikologis akan kehilangan posisi sentral dalam kegiatan KBM sekolah terutama dgn yg berkaitan dgn peningkatan mutu ICT di sekolah. Pendidikan tidak hanya bertatap muka. Pendidikan harus selalu berkesinambungan dan terus menerus. Untuk bisa konsisten belajar tidak harus bertemuanya guru dengan siswa. Ada media lain yang bisa dijadikan wahana untuk saling tukar menukar pengetahuan. Media tersebut adalah internet. Guru TIK harus menjadi tulang punggung dalam pendidikan modern yang memakai jasa internet.
3. Laboratorium komputer tidak akan berkembang baik, bila tidak dioptimalkan penggunaannya. Laboratorium komputer sudah masanya disejajarkan dengan kelas yang lain. Bahkan untuk masa depan, lab komputer menjadi kawah candradimukanya bagi siswa yang ingin meraih masa depan yang cemerlang. Lab komputer menjadi tempat untuk meneropong masa depan bangsa.
4. Bila TIK telah berkembang dengan baik, bahkan mampu menjadi penunjuk jalan bagi perkembangan ilmu pengetahuan, niscaya bangsa ini tidak akan mengalami kehilangan generasi. Indonesia akan tetap mampu berdiri dengan negara lain disetiap kancah kehidupan. Sebuah generasi yang tidak akan meminta-minta, tapi generasi yang tangannya selalu berada di atas.

2 comments

  • Agus Purwadi

    Lab. Komputer terpakai hanya setahun sekali saat jelang UNBK dan hari H pelaksanaan UNBK.

    Penggunaan harian hampir tidak ada lagi setelah dihapusnya TIK. Sisi lain ngirit listrik tapi sisi lain Guru TIK ambyarr…

    • affandi

      makanya sekolah bisa memanfaatkan untuk bidang yang lain. agar tidak boros, tapi efektif penggunaannya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *