Hijrah

Bila tak ada aral melintang, tahun ini, kamis 21 September 2017 bertepatan dengan 1 Muharram 1439 hijriyah. Sudah 15 abad lamanya, Islam telah diridloi oleh Allah swt menjadi Agama umat Islam. Selama itu pula, Islam sebagai sebuah peradaban mengalami pasang surut dalam menapaki perjalanan waktu. Suka duka silih berganti hanya untuk mengagungkan asma Allah.
Perhitungan tahun hijriah dimulai sejak hijrah Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah. Kaum Muhajirin berbondong-bondong menuju ke Madinah yang disambut dengan suka cita oleh kaum Anshor. Perjalanan yang tidak mudah. Peristiwa tercerabutnya tanah leluhur yang dibanggakan dan dicintai, tiba-tiba harus rela dilepas. Taruhan nyawa yang demikian dekat dan bisa terjadi di setiap saat. Hanya sebuah keinginan yang mereka harapkan, hidupnya Islam yang bersanding nyaman dengan semua penganut apapun di lingkungannya.
Dalam sirah nabawiyah, tercatat ada 4 peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw yang berpengaruh terhadap perkembangan Islam.

Pertama Hijrah ke Habasyah. Ini adalah hijrah yang pertama kali dilakukan ke Habsyi (Abissinia atau Ethiopia). Disini hidup seorang raja Kristen yang bijak bernama Najasyi. Nabi memerintahkan untuk melakukan hijrah lantaran tidak kuat melihat penderitaan kaum Muslimin yang dianiaya oleh kaum kafir Quraisy. Hijrah yang pertama ini dilakukan pada tahun kelima kenabian.
Kedua Hijrah ke Aksum, di negara yang sama Abissinia. Peristiwa ini terjadi pada tahun ketujuah kenabian. Musabab hijrah yang kedua ini dilakukan masih sama, yaitu perlakuan kaum kafir Quraish terhadap sahabat Nabi Muhammad saw. Peserta eksodus itu diterima dengan penuh kehormatan oleh Raja Najasyi. Beliau menolak mengembalikan mereka ke Mekkah tatkala utusan Quraisy, dibawah pimpinan Amr bin Asy dan Abu Sufyan, datang untuk meminta kepada sang raja agar pengungsi tersebut diusir dan disuruh pulang kampung.
Ketiga Hijrah ke Thaif. Terjadi pada tahun kesepuluh tahun kenabian. Hijrah ini dipimpin langsung oleh Rasulullah. Peristiwa hijrah yang ketiga ini saling berkebalikan dengan kejadian pertama dan kedua. Di Thaif, Rasulullah dan rombongan diterima dengan hinaan, bahkan dilempari dengan batu. Namun demikian tidak menyurutkan niat, bahwa pindah sementara dari Mekkah adalah langkah yang terbaik.
Keempat Hijrah ke Madinah. Inilah hijrah yang tercatat dalam sejarah sebagai peristiwa yang agung. Fakta mencatat bahwa peristiwa ini mengandung makna sebagai peristiwa budaya yang bukan saja umat Islam yang menangguk untung. Tapi bagi semua umat yang ada di Mekkah dan Madinah serta daerah lain diseputarnya. Ada dua gelombang eksodus umat Islam yang pindah dari Mekkah ke Madinah. Di peristiwa ini, kelak sejarah mencatat bagimana perkembangan Islam di mulai dari titik ini. Bukan berarti kejadian lain tak mengandung arti.
Hijrah, bisa diartikan perpindahan dari satu peristiwa ke peristiwa lain, yang dianggap lebih baik. Allah sendiri menegaskan “Bukankah bumi Allah begitu luas, sehingga kamu bebeas berhijtah kepadanya”. S. Annisa : 97. Rasulullah sendiri juga bersabda “Tiada lagi Hijrah sesudah takluknya kota Mekkah”.
Andai hijrah dimaknai perpindahan tempat dari satu tempat ke tempat lain, maka beruntunglah orang yang merantau mencari ilmu, mencari kehidupan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *