Peningkatan Kualitas dengan AMT

gambar : koleksi pribadi

gambar : koleksi pribadi

Perlukah motivasi diberikan dalam dunia pendidikan? Tentu saja sangat perlu. Dalam setiap kebijakan yang dibuat oleh stake holder pasti tersisip kalimat yang tersurat ataupun yang tersirat tentang motivasi. Apalagi setiap guru yang akan mengajar diwajibkan untuk memberi motivasi kepada siswanya. Mengapa demikian? Karena untuk meraih prestasi. Apalagi yang akan diraih dalam pendidikan kalau bukan prestasi?

Dari waktu ke waktu, lembaga pendidikan selalu meningkatkan kinerja dan mutu pendidikan. Berbagai carapun dilakukan untuk memotivasi setiap insan pendidikan.  Berbagai upaya dilakukan untuk meraih prestasi yang optimal. Salah satu cara yang dilakukan dengan mengadakan pelatihan motivasi dengan berbagai variasinya. Ada Achievement Motivation Training (AMT), ada out bond ada pula Emitional Spriritual Quotion (ESQ).

Event Oraganisation (EO) penyedia pelatihan tersebut juga tersedia banyak. Mereka meramu berbagai macam teori motivasi yang dikemas dalam bentuk pelatihan. Seven Habit karya Stephen Covey pun dikupas, sehingga tampak menarik. Ada juga methode Rasulullah Muhammad saw, dipraktekkan dalam kebiasaan sehari-hari.

Tidak ada salahnya bila lembaga pendidikan mengadakan pelatihan semacam itu, agar diperoleh penyegaran. Kerja menjadi tidak monoton dan lurus-lurus saja. Dengan pelatihan, semua elemen diingatkan kembali tentang misi dan tujuan pendidikan. Meluruskan gerak yang tergabung dalam satuan pendidikan sangat perlu. Ibarat sebuah kelompok peleton inti, meluruskan baris dan berhitung apakah ada anggota yang tercecer, apakah ada anggota yang tidak segaris? Perlu diingatkan.

Metode pelatihannyapun berbeda-beda. Salah satu yang sering dipakai adalah experiential learning. Peserta mengalami sendiri berbagai peristiwa sehingga mereka dapat belajar langsung dari pengalamannya. Dengan begitu, apa yang diperoleh akan melekat kuat dalam benak perserta, bahkan mungkin saja menjadi landasan hidupnya kelak.

Methode ini sudah lama dikenal di Indonesia, yaitu sekitar 12 tahun lalu. Metode yang berasal dari Amerika Serikat (AS) ini tidak digunakan di negara asalnya itu karena kurang cocok dengan budaya di sana. Metode ini justru berkembang di Jepang karena sesuai dengan masyarakat Jepang yang terbiasa hidup dan bekerja keras. Apakah cara ini bias digunakan di Indonesia?

Menjawab pertanyaan semacam ini tidak mudah. Karena setiap lembaga memiliki karakter tersendiri. Ada yang sangat cocok, pun demikian ada yang kurang cocok. Semua harus berpulang dapa potensi dan manajemen yang diterapkan di lembaga tersebut.

Untuk meingkatkan motivasi seseorang ada beberapa tahapan :

Pertama, menyadarkan bahwa dalam diri manusia tersimpan banyak potensi. Kemudian, membantu menemukan cara yang tepat untuk mengeluarkan potensi tersebut.

Kedua, membuka wawasan tentang kehidupan bahwa kunci sukses atau tidaknya seseorang berada di tangan orang itu sendiri.
Ketiga, mengingatkan seseorang pada prinsip dasar kesuksesan, yaitu harus berani membayar suatu harga dengan kerja keras, keuletan, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi rintangan.

Keempat, mengembangkan keinginan untuk hidup dengan sikap mental positif.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *